PEPATAH-PETITIH DAN UNGKAPAN-UNGKAPAN BAHASA DAYAK NGAJU KALIMANTAN TENGAH

Jurnal Toddopuli 34

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Ada yang lebih memfokuskan kegiatannya pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, ada pula yang memilih dunia bahasa, sejarah, budaya Kaharingan, tekhnologi atau musik sebagai bidang tekunan. Mulai nampak adanya spesialisasi masalah yang ditekuni dan ditangani secara sungguh-sungguh. Berharap saja bahwa spesialisasi tidak membuat orang menutup mata dan telinga terhadap bidang-bidang lain, lalu merasa bidang tekunannya sendiri yang paling “wah” sehingga kurang memahami arti penting pendekatan multi disipliner dan makna saling hubungan dalam suatu perkembangan dialektis hal-ikhwal. Di samping gejala mulai terjadinya spesialisasi bidang tekunan, terdapat tidak sedikit pula bidang-bidang yang belum terjamah baik. Bidang sastra, seni lukis, teater, misalnya masih belum memperlihatkan perkembangan berarti dibandingkan dengan 7 tahun silam saat saya masih bekerja di propinsi ini. Dunia eterntainment masih jauh dari perhatian, padahal masyarakat berbagai kalangan sangat kekurangan dan memerlukan hiburan. Sejak 1957 saat berdirinya Palangka Raya sampai hari ini, tak ada sebuah gedung bioskop pun terdapat di ibukota propinsi ke-17 ini. Terdengar berita bahwa dalam waktu dekat Bioskop 21 akan diadakan di Palma (Palangka Raya Mall). Apakah Palangka Raya kekurangan gedung-gedung pertunjukan? Aneh jika demikian, sementara banyak gedung-gedung yang mubazir tak dimanfaatkan tapi gedung-gedung baru terus dibangun, mungkin atas nama “proyek”. Kehausan akan tempat bersantai begini kemudian menjadi sebuah arus manusia menuju restoran-restoran tenda dan Monumen Nilai-Nilai Juang 1945 – dengan nilai-nilai dan pandangan sejarah yang membangkitkan polemis – terletak di depan Kantor Gubernur yang megah indah. Narkoba dan miras, kekerasan dan agresivitas seksual mengisi kolom-kolom koran hampir saban hari. Secara garis besar, bisa dikatakan adalah sebuah kota kering tanpa kegiatan kesenian yang berarti. “Ini disebabkan karena kota sedang berkembang”, ujar seorang pejabat dari Kejaksaan Tinggi yang kebetulan menginap di satu wisma. O ya, kota memang tengah berkembang tapi tidak seimbang dan bergaya pop konsumptif. Demikianlah perkembangan baru di Kalimantan Tengah yang saya lihat saat pulang kampung kali ini.

Di tengah ketimpangan-ketimpangan di atas, hal menarik adalah kegiatan-kegiatan fokus yang dilakukan oleh dua budayawan muda Dayak Anthony Nyahu dan Marko Mahin. Yang terakhir adalah seorang antropolog lulusan S2 universitas di Leiden, sedang menulis tesis S3 pada Universitas Indonesia, Jakarta. Sedangkan Anthony Nyahu seorang pegawai pada Pusat Bahasa yang sesuai dengan bidang kerjanya banyak menekuni permasalahan dan pengembangan bahasa Dayak Ngaju. Marko dan Mahin sedang berencana untuk menerbitkan Buletin Tamuei yang sepenuhnya berbahasa Dayak Ngaju. Dalam kerangka pengembangan bahasa Dayak Ngaju ini, Anthony Nyahu aktif melakukan penelitian, penulisan, pengumpulan khazanah bahasa Dayak Ngaju serta menganalisanya. Kegiatan Nyahu dalam bidang bahasa, nampaknya agak berbeda dengan pekerjaan besar dan penting Institut Dayakologi Pontianak yang membuat peta bahasa di Kalimantan Barat. Selain membuat peta linguistik di Kalteng, Nyahu juga menganalisa, membahas ejaan dan tatabahasa – kegiatan lengkap-melengkapi dengan kegiatan Nila Riwut yang telah berhasil menyusun kamus bahasa Dayak-Indonesia terlengkap sampai sekarang dan masih mencari penerbit. Salah satu kegiatan Anthony Nyahu adalah mengumpulkan kembali pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju yang selama ini kurang diindahkan terutama oleh generasi muda, mulai dari angkatan Anthony dan angkatan yang di bawahynya. Jangankan menaruh perhatian, dalam berkomunikasi sesama diri mereka, angkatan muda Dayak Kalteng nampak lebih banyak menggunakan bahasa Banjar daripada bahasa Dayak Ngaju, sekalipun mereka adalah orang Dayak Ngaju. Penggunaan bahasa Banjar sebagai alat komunikasi bahkan oleh tak sedikit keluarga digunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Apakah hal begini merupakan petunjuk akan adanya masalah dalam soal identitas dan kompleks psikhologis di kalangan masyarakat Dayak Ngaju? Apakah secara budaya, orang Dayak Ngaju, mengalami sejenis penyakit? Kalau pun mereka berbahasa Banjar, saya juga tidak yakin bahwa mereka yang memakainya sebagai bahasa komunikasi hingga di lingkungan keluarga mereka, memahami pesan filosofis dan nilai-nilai yang terungkap dalam pepatah-petitih serta ungkapan bahasa Banjar. Jika bahasa etniknya sendiri dilecehkan secara tidak sadar, sedangkan bahasa Banjar digunakan sebatas bahasa kmunikasi, saya khawatir, akhirnya manusia Dayak Kalteng sekarang, menjadi sejenis manusia hampa nilai budaya. Padahal jika memperhatikan sejumlah pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju (Lihat: Lampiran) yang telah dikumpulkan oleh Anthony Nyahu, pepatah-petitih dan ungkapan tersebut merupakan kesimpulan para tetua tentang pengalaman hidup mereka. Kecuali itu, pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan mencerminkan evaluasi mereka terhadap perangai atau watak manusia Dayak. Dari pepatah-petitih dan ungkapan Dayak Ngaju yant dikumpulkan oleh Nyahu, tercermin juga kedekatan manusia Dayak dengan lingkungan, bagaimana “basis” tercermin pada “bangunan atas” yang bernama pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan.

Kesimpulan tetua tentang pengalaman hidup mereka menjawab tantangan zaman mereka misalnya tersirat dari pepatah-petitih dan ungkapan berikut:

Buju-bujur ikoh aso (Lurus selurus ekor anjing)

Rimae (artinya): Tampayahe bahalap padahal pananjaru (Nampaknya baik, tapi nyatanya pembohong)

Bisa bulue dia belange (Basah kulit tidak belangnya)

Rimae (artinya): Taloh gawi je dia mandinun hasil (Pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil)

Baka-bakas bua rangas (tua(tua buah rangas)

Rimae (artinya): Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

(Walau pun sudah tua, tapi kerjanya seperti anak-anak).

Karas nyaho jaton ujan (Deras petir tanpa hujan=

Rimae (artinyanya):Are pander jatun katotoe (besar mulut tanpa bukti).

Kalah batang awi sampange (kalau sungai karena anak sungainya)

Rimae (artinya): Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

(Hilang arah semula karena ulah yang kemudian).

Dia tau pisang handue mamua (Pisang tak bisa berbuah dua kali).

Rimae (artinya): Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara

(Kedewasaan dan kekuatan tak bisa kembali ke awal).

Tingang manganderang into bitie (Enggang menggema di dalam tubuhnya saja)

Rimae (artinya):Tamam pander baya jaton gawie (Hebat omongnya saja, tanpa kerja).

Ampit manak tingang(Pipit beranak enggang).

Rimae (artinya): Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

(Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtua).

Berbagai perangai manusia di dalam pepatah-petitih dan ungkapan juga tercermin, misalnya :

Aku raja aku tamanggung aku damang(Saya raja, saya temenggung saya damang).

Rimae (artinya):Dia maku marandah arep awi keme arepe oloh hai.

(Tidak mau rendahhati karena merasa dirinya orang besar)

Duan kulate ilihi batange (Ambil jamur tinggalkan pohon)

Rimae (artinya):Baya handak kamangate, pehe dia hakun

(Mau enaknya saja, sakitnya tidak mau).

Lepah anise kuas inganan (Habis manis sepah dibuang).

Rimae (artinya):Amon tege gunae inyayang, amon dia palus inganan.

(Saat berguna disayangi, saat tak berguna dibuang).

Pepatah-petitih yang lahir sebagai kesimpulan pengalaman angkatan pendahulu oleh Anthony Nyahu disebut sebagai “pandehen utus” (pengokoh ketahanan suku dan bangsa) “melalui teguran ingatan dan kesadaran pada setiap saat dalam mengharungi kehidupan” (gunae kan indu pampingat tuntang parendeng itah hong pambelom sining katika). Dari pepatah-petitih dan ungkapan dalam sebuah bahasa, barangkali bisa terbaca juga keadaan masyarakat pada suatu kurun waktu, mimpi dan nilai-nilai dominan serta romantisme zaman tertentu. Berangkat dari hipotesa begini, saya jadi bertanya-tanya tentang keadaan atau latarbelakang lahirnya ungkapan mengingatkan berikut:

Tempun kajang bisa puat = Tempun uyah batawah belai = Tempun petak manana sare”, “punya atap basah muatan, punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa”.

Kata-kata peringatan ini terpampang dengan huruf-huruf besar di salah sebuah batu Bukit Batu dengan tandatangan Tjilik Riwut, bisa jelas terbaca dari kejauhan. Pertanyaan saya: Apakah keadaan terpinggir begini telah berlangsung lama di Tanah Dayak? Berapa lama, sejak kapan? Tentu ungkapan peringatan begini bukanlah ungkapan baru, tapi sudah berlangsung lama. Mengapa terjadi keadaan terpinggir untuk kurun waktu yang lama, pada katanya manusia Dayak itu adalah “Utus Panarung” (turunan manusia pelaga). Apakah ada perobahan pola pikir dan mentalitas pada Utus Panarung sejak Pertemuan Tumbang Anoi 22 Mei 1894 1), pertemuan yang mengawali kekalahan politik komunitas Dayak? Faktor-faktor apa yang membuat keterpurukan komunitas Dayak berlangsung demikian lama dan sampai sekarang masih belum juga teratasi sekali pun orang pertama propinsi adalah seorang Dayak juga, baik ia bernama Teras Narang, Gara, Reynault Sylvanus atau pun Asmawi A Gani? Apa yang salah?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan begini, agaknya kita niscaya menelusur sejarah Dayak dari masa ke masa, menyimak konsep pemberdayaan dan pembangunan yang dipilih dan diterapkan dari saat ke saat oleh penyelenggara kekuasaan politik propinsi, mencermati kesungguhan keberpihakan yang mengatasinamai pemberdayaan dan pembangunan daerah. Dengan demikian maka belajar bahasa, belajar pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan, barangkali mengandung makna dan meniscayakan kita juga belajar sejarah perkembangan masyarakat, sejarah pemikiran dan nilai-nilai dominan pada suatu kurun waktu. Barangkali dalam kaitannya dengan titik-titik demikian, usaha awal Anthony Nyahu menghimpun pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju Dayak mempunyai arti yang melampaui sekedar bisa dijadikan isi muatan lokal dalam proses ajar-mengajar di Kalteng (baca: daerah). Titik-titik demikian tentu mengungkapkan diri dalam berbagai sektor, termasuk seni rupa, puisi, dan arsitektur, dan sebagainya. Penanganan khusus arsitektur menjadi fokus perhatian Andriani S. Kusni dalam rangka kajiannya terhadap arsitektur tradisional nusantara. Spesialisasi kajian menandai perkembangan baru dalam usaha melangkah di jalan pemberdayaan dan pembangunan yang oleh Prof. Dr. Sajogyo disebut “Jalan Kalimantan” (Kalimantan bisa digantikan dengan nama pulau-pulau lain).****

Palangka Raya, Mei 2009

—————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Lihat: JJ. Kusni, “Masalah Etnis Dan Pembangunan. Kasus Dayak Kalimantan Tengah”, PT Paragon, Jakarta ,Agustus 1994, hlm-hlm. 30-38. Kata Pengantar DR. Djohan Effendi.

LAMPIRAN:

PADEHEN UTUS

JETOH GUNAE AKAN INDU PAMPINGAT TUNTANG PARENDENG ITAH

HONG PAMBELOM SINING KATIKA

Dikumpulkan Dan Disusun Oleh

ANTHONY NYAHU

Kahem badue bisa ije

Rimae: Badue manggawi, kabuat nyarena

Tempun kajang bisa puat = Tempun uyah batawah belai = Tempun petak manana sare.

Rimae: Tempun ramo, oloh mahapae,

Munduk lelep mendeng tambukep

Rimae: Saraba sala

Mahimes ujau ije kapulau

Rimae: Oloh hatue je manduan uras oloh bawi ije kalambutan akan sawae

Kongkong saran tewang teah belai, antang saran langit bisa belai

Rimae: Arep je tempon petak danum, oloh beken je manduae

Bapinding rinjing baatei butong

Rimae: Oloh je dia maku mahining peteh oloh bakas

Buju-bujur ikoh aso

Rimae: Tampayahe bahalap padahal pananjaru

Bisa bulue dia belange

Rimae: Taloh gawi je dia mandinun hasil

Baka-bakas bua rangas

Rimae: Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

Karas nyaho jaton ujan

Rimae: Are pander jatun katotoe

Kalah batang awi sampange

Rimae: Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

Dia tau pisang handue mamua

Rimae: Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara

Tingang manganderang into bitie

Rimae: Tamam pander baya jaton gawie

Ampit manak tingang

Rimae: Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

Ampit biti, tingang kanderange

Rimae: Kutak pander tuntang taloh gawi dia satimbang.

Jaton tau kambing maobah belange

Rimae: Jaton ati oloh je tau maobah tabiate

Nyamae ewau madu, parae mimbit puntut

Rimae: Oloh ije kotak pander bahalap tapi papa ateie

Handak neweng jaton baliung, handak nyakei tangkalau gantung

Rimae: Gawi je ngahus, are katapase

Neweng kayu hapa pisau, mandirik hapa baliyong

Rimae: Mahapa pakakas dia tumon ekae

‘Menggunakan segala alat tidak pada tempatnya’

Mikeh tapuhus kinyak, tepa buah duhi

Rimae: Mikeh bara kapehe je kurik, buah kapehe je hai

Jaton utuse kelep tau mandai

Rimae: Manggawi je dia mungkin

Inti-intih bua rihat halawu bua ruku

Rimae: Mintih je bahalap halawu mandino je papa

Jaton pusa nalua laok je langa-langai

Rimae: Jaton aton oloh je mananrtalua ytaloh je mangat

Jaton danum tau maleket hunjon dawen kujang

Rimae: Dia tau mahapan ramo atawa rajaki bua-buah

Mamparingkung bawoi lewu, manyeput bawoi himba

Rimae: Tau/bahalap dengan oloh beken

Mamuno lauk talimbas kambues

Rimae: Manampa kare gawi barangkah bara wayahe

Laya-laya katam tatame buwu

Rimae: Haranan laya, tapajok tame tingkes

Mambelom tingang manutok mate

Rimae: Mambelom oloh, jadi sampai katika, ie tulas dengan oloh je mambelom ie’

Makang hejan limbah balawo = Manutup rumbak jadi tambohos

Rimae: Harue batawat limbah jadi mandino kapehe

Dia katawan kasak kulat

Rimae: Oloh je dia katawan auh pander saritae kabuat

Pandang andau jari halemei

Rimae: Malalus gawi jari talimbas

Mandop bawoi paheka aso = Misi laok palepah umpan

Rimae: Manggawi kare gawi je jaton hasile

Dus dahian dus nangkarap

Rimae: Oloh je malalus taloh gawie dia imarima helo

Hong kueh batang lembut hete ie tege

Rimae: Oloh je baya manggau kamangat ih

Hore-horeh aso tapangkit pinding kolae

Rimae: Bara horeh mampalembut kalahi/karidu

Anak kambing dia tau manjadi anak haramaung

Rimae: Anak oloh humong dia tau manjadi anak oloh pintar

Ite anak nanture mananto

Rimae: Genep gawi kahandake irima bua-buah.

Inti-intih bua rihat

Rimae: Handak mendinum je bahalap dia katawa dinun je papa

Antang tarawang manari, manok hadari manyahukan

Rimae: Amon dumah pangawas bara hunjun, uras pagawai bagawi intu eka ewen.

Panginan antang dia akan kinan munyin

Rimae: Rajaki itah dia akan induan oloh beken.

Hong kueh tingen lepah hete apoi belep

Rimae: Into kueh itah matei into hete ingubur.

Mausik apoi balupak

Rimae: Genep gawi aton akibate

Kahandak atei handak dimpah, jukung tege besei jatun

Rimae: Handak bagawi tapi pakakas jaton

Atei bagatel mate inggayau

Rimae: Oloh je dia ulih manggawi taloh gawie je puna iharape.

Manakau atei oloh.

Rimae: mangat oloh manyinta dengae benye-benyem tuntang halus.

Babilem inyewut baputi, baputi inyewut babilem

Rimae: Bahalap inyewut papa, papa inyewut bahalap; dia mander ije katutu/pananjaru

Keleh babilas bara babute

Rimae: Keleh aton bara jaton sama sinde

Lalau papoi tatepa bakeho

Rimae: Eweh bewei je lalau mampagantung arep, kajaria manjatu kea.

Kuman bari angat bulu, mihop danum angat duhi

Rimae: Pangkeme pehe atei je tamam toto awi are je dia manyanang.

Antang tempon tandak, sabaru tempon talatak

Rimae: Itah tempon aran, oloh beken je mangkeme kamangate

Batekang kilau batu, gantung kilau langit

Rimae: Batekang ateie

Ali-alim bawang, padahal paham bahewau

Rimae: Oloh je tampayahe panyuni, padahal balinga.

Tambohos pai tau injawut, tambohos pander bahali nangkaluli

Rimae: Pander je jadi ingutak dia mungkin tau injawut

Betung bulat jatun lapake, ampit jagau dia basarangan

Rimae: Oloh je lapas-liwus pambelume

Baatei butung badaha danum

Rimae: Oloh je jaton pangkeme/perasaan

Ije gawang intu itah, ije depe intu oloh

Rimae: Masalah je korik akan itah, tapi puna hai akan oloh.

Babilem bulu Kak awi oloh bawi barapi

Rimae: Manyuman kakare bawi je puna are.

Kahem dia badanum

Rimae: Dinon musibah jaton katawan buku sababe.

Tekap sambil tekap gantau

Rimae: Oloh je badaham

Akan ngaju dia kuman manok, akan ngawa dia kuman tabuan

Rimae: Kare rancana uras dia bahasil atawa jaton bara tinto, uras

sala’

Aku raja aku tamanggung aku damang

Rimae: Dia maku marandah arep awi keme arepe oloh hai.

Duan kulate ilihi batange

Rimae: Baya handak kamangate, pehe dia hakun

Helo nupi bara batiroh

Rimae: Sahelo masalah jete lembut, ie jadi tawan

Lepah anise kuas inganan

Rimae: Amon tege gunae inyayang, amon dia palus inganan.

Halaku dia hatenga, hapili dia hajual

Rimae: Kaadaan je sama, jaton je labih.

(Dokumentasi: Andriani S. Kusni dan JJ.Kusni)

About these ads

31 comments so far

  1. Gwonk on

    Kalu diijinkan pak saya boleh mengcopy paste pepatah petitih ditas pak, mau saya bagikan ke forum biar anak-anak muda bisa mengenal dan tau.

    saya senang dengan tulisan-tulisan bapak dan ibu sangat merangsang otak untuk lebih tau tentang budaya Kalteng ini yang saya rasa sedikit demi sedikit terkikis.

    Bahasa Dayakpun kalau tidak kita jaga dari saat ini pasti akan hilang dengan cepatnya.

    salam

  2. Ann & Kusni on

    Silahkan saja. Tabe’.

  3. otoy oloh nusa on

    ayo itah uras je oloh dayak..bakas tabela..mahapan kutak pander itah..angat utus dayak itah dia nihau.._dahan itah mngt pambelum.!

  4. kuntep tarawa on

    aku terkejut waktu ke desa Suku Baduy Dalam di Lebak, Banten. kagum dengan cara mereka mempertahankan komunitas adat mereka, terlintas hipotesis2 mengapa mereka bertahan, padahal mereka sering bertualang ke Jakarta, namun tetap dengan identitas mereka: orang Kanekes. Sementara ini aku hanya bisa iri dengan orang Kanekes. Di kampusku masih ada mahasiswa orang Maanyan tapi mengaku orang Malang-Jawa. Atau orang Benuaq tapi tidak mengaku.
    Perlu ada forum besar2an sebagai pembalik arus dari forum Tumbang Anoi 1894.
    Maaf baru bisa ngomong, aku lagi sibuk Tugas Akhir kuliah.

  5. lolong on

    dimana saya bisa mendapatkan Kamus atau Buku-buku Bahasa dayak Ngaju? Selama ini saya kesulitan mendapatkan, tolong dibantu, terima kasih banyak…

  6. Tedy Lvs on

    Kalau bukan kita org dayak sendiri yg mempertahankan bahasa nenek moyang kita dari kepunahan lalu siapa lagi? Kita patut bangga karena kita org dayak ngaju punya bahasa sendiri sbagai peninggalan budaya nenek moyang kita seperti yg dimiliki oleh suku suku lain, inilah salah satu identitas kita. Salam bara Katingan!

  7. Gita Magdalena on

    Saya minta ijin copas artikel ini ya. Sedang mengumpulkan bahan tentang bahasa dayak ngaju. Terima kasih sebelumnya :)

  8. whiedhie on

    kula sebagai putra seruyan dia suka dengan uluh je asli dayak dia handak hapa bahasa arep a.. apa lagi mun jadi supa leka lewun uluh. salam kenal bara bujang manjul????

  9. Kusni Sulang on

    Bujur Le. Itah musti tau marega arep itah kabuat. Amun itah dia ulih marega arep itah, uluh beken labi-labih manampayah itah dengan ilan matae.

  10. mochtar on

    bahasa dayak kenyah ada juga kah

  11. Esun Temanggung Panji Kurun on

    saya minta ijin Kopas artikel ini. Terima
    Kasih

  12. Beni on

    Hai takuluk bara bitie,,

  13. 4t4k on

    umba ingopy wa lah :D

  14. Miskuindu Asramadhanoor on

    Trims atas pengetahuan tentang budaya dan adat suku Dayak. Mohon jika ada kupas dong filosofis harati dalam mendidik anak suku Dayak, sekali lagi, Trims

  15. Sheree on

    Sharp post. I need to say, I found you in Yahoo and that
    is the very first article I read in this website.
    You totally made me wanna read some more!

  16. Aurora on

    Exactly how much time did it require you to post “PEPATAH-PETITIH
    DAN UNGKAPAN-UNGKAPAN BAHASA DAYAK NGAJU KALIMANTAN TENGAH | Jurnal Toddopuli”?
    It seems to have quite a bit of very good knowledge.
    Appreciate it -Lin

  17. Hipnoterapi islami on

    I am actually delighted to glance at this website posts which includes tons of useful data, thanks for providing such
    information.

  18. It’s about time we have a post similar to this. I am delighted on what your following work will be. Thank you so much for such a fabulous job.

  19. Local locksmith in Fulham on

    This is a report worth checking out. I have numerous colleagues who could actually require this
    ideas. Is it okay if I share it with them?.

  20. prywatne anonse eortyczne on

    prywatne anonse eortyczne Dziewczyny przyjaźniły się obecnie od dziecka, nieopodal
    iż widywały się lecz wciąż w ferie natomiast w święta.
    Nawet nie pochodziły spośród jednego miasta, jednak każde lato
    spędzały razem tuż przy swojej babci. Na osada
    furt przyjeżdżał i ich kuzyn Kazik. We trójkę spędzali czas na różnych pierdołach.
    W tej chwili Kazio został w domu oraz pomagał w
    czymś dziadkowi, tudzież dziewczyny poszły na gród.
    Kiedy dotarły w umówione lokalizacja, chłopcy natychmiast w ową stronę na nie czekali.

    Zobacz sam: prywatne anonse eortyczne.

  21. Günstiger kredit vergleich on

    Duperre super-site! I’m loving it! ‘ Will come back once more – finding you to eat, give Thanks.

  22. hipnotis surabaya on

    “punya atap basah muatan, punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa” pasa sekali dgn kondisi saat ini

  23. wiwi on

    bisa bantu pr bahasa dayak anak saya?

  24. Andriani S. Kusni on

    Salam, Bu Wiwi
    Harian Radar Sampit memuat pelajaran bahasa Dayak Ngaju asuhan Kusni Sulang, terbit tiap hari Minggu di halaman kebudayaan Sahewan Panarung halaman 20 lengkap dengan pepatah-petitih Dayak Ngaju. Semoga info ini bermanfaat membantu anak ibu mengerjakan PR bahasa Dayak.

    Tabe,
    Andriani S. Kusni

  25. Egy Prasetyo on

    Orang dayak punya pribahasa yg luar biasa. Sebagai Uluh dayak saya sangat bangga dengan kebudayaan dan bahasa dayak yg kita miliki. Walaupun sekarang di tempat saya bahasa dayak sudah menjadi bahasa minoritas.

    Salam bara Samuda.

  26. Saka Palwaguna on

    Bapak, saya mohon izin copy paste karena tulisan di blog bapak penuh makna dan berarti bagi saya.Terima Kasih

  27. jasa review murah on

    Hmm is anyone else experiencing problems with the pictures on this blog loading?
    I’m trying to find out if its a problem on my end or if it’s the blog.
    Any feedback would be greatly appreciated.

  28. Cara Memutihkan Wajah on

    It’s a shame you don’t have a donate button! I’d certainly donate to this excellent
    blog! I guess for now i’ll settle for book-marking and adding your RSS feed to
    my Google account. I look forward to fresh updates and will talk about this blog
    with my Facebook group. Chat soon!

  29. herdi pernando on

    kilau bakatak penda bango

  30. herdi pernando on

    saran: buat hari khusus bahasa dayak ngaju di sekolah2. tabe kea

  31. Prediksi Skor Bola Akurat on

    hi!,I love your writing very much! percentage we communicate extra approximately your article on AOL?
    I need a specialist on this area to unravel my problem.
    Maybe that is you! Looking ahead to peer you.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: