MENAPAK JEJAK BUNGAI TAMBUN

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anakku –Lanjutan Jurnal Ke-27)


Catatan Kritis Atas Buku

The Ot Danul From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan

(Based On Tatum) Their Histories And Legends)

Oleh: Marko Mahin

Catatan Ketiga

Bungai Tambun atau Tambun Bungai ?


Halaman 40 dari buku cukup membuat saya bingung yaitu pada kalima:

« Sebagai pahlawan mitos kebanggaan suku Dayak, maka Kodam Kalteng dahulu dinamai Kodam XI/Tambun Bungai. Ada perbedaan sedikit dalam penulisan naskah ini yang mencantumkan nama Bungai terlebih dahulu, yaitu Bungai Tambun.Hal ini disebabkan dalam perjuangan terbentuknya Kodam XI/Tambun Bungai, turut berpartisipasi aktif dua orang petinggi militer TNI-AD yang mempunyai intial nama depannya yang jika disingkat TB juga yakni TB Simatupang dan TB Silalahi.

Maka penulisan epos kepahlawanan Bungai Tambun ini sekaligus juga menempatkan posisi yang sebenarnya dari keterpaduan kedua tokoh mitos ini, dari keadaan yang salah serta sudah berlangsung lebih dari 50 tahun ».

Dari beberapa data awal memang tampak bahwa nama Bungai Tambun yang kerap kali dipakai 4). Kemudian tak dapat disangkal memang ada upaya untuk menjadikan nama kedua pahlawan Dayak sebagai Komando Daerah (Kodam) XI Kalimantan Tengah (dibentuk tanggal 17 Agustus 1958) yaitu pada 1 Desember 1959 menjadi Kodam XI Tambun Bungai.5) Kalau dari segi akurasi data, maka 1 Desember 1959 belum lagi genap 50 tahun apalagi lebih dari 50 tahun.

Saya tidak menyanggah ada peranan TB Simatupang dalam membentuk Kodam XI Tambun Bungai, namun saya sangat meragukan peranan TB Silalahi. TBSilalahi lahir tahun 1938, jadi pada tahun 1959 ia baru berumur 21 tahun. Usia yang sangat muda untuk bisa disebutkan sebagai Petinggi Militer AD. Apalagin kalau mengingat bahwa T.B. Silalahi pada tahun 1959 belum lagi lulus Akademi Militer Nasional (AMN). Ia lululusan tahun 1961. 6)

Keturunan “dua pahlawan perkasa” yang saya wawancarai menerangkan bahwa Bungai memang lebih tua dari Tambun, karena itu disebut Bungai Tambun.7) Namun ada juga yang menerangkan bahwa mereka memakai sebutan Tambun Bungai dengan alasan “sudah biasa” atau “enak diucapkan” atau “enak didengar”. Sehubungan dengan nama pahlawan ini, saya percaya orang Dayak “cukup cerdas” sehingga kalau menyebut Tambun Bungai sama sekali tidaklah identik dengan “Tahi Bonar”.

Hal ini dinyatakan dengan tegas, karena kita seringkali suka gagiren (latah) yaitu bertindak spontan tanpa pemikiran dan konsep yang dalam. Saya kuatir nanti akan muncul kawan giren (kelompok latah) yang dengan gegabah mengganti nama Gedung Pertemuan Umum (GPU)Tambun Bungai, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Tambun Bungai dan Jalan Tambun Bunga_, menjadi GPU Bungai Tambun, STIH Bungai Tambun dan Jalan Bungai Tambun.Pun pidato para petinggi propinsi ini menjadi Welcome to Central Kalimantan, the Land of Bungai-Tambun.

Catatan Keempat

Bahasa Dayak Rusak: Mampasawe?

Sebagai orang Dayak Ngaju, saya merasa asing dengan versi bahasa Dayak Ngaju dari buku ini. Ada banyak kata-kata “ajaib” yang saya temukan, antara lain:

Arwah Hagan Pahuluan Rambungan

Bacahaya Hengga Pambaruan Sajahtera

Bahubungan Ingarunia Pamuka Sangu

Bajalan Kalumpuke Pangamatan Tabing

Bakajut Kesatria Parubahan Taluk

Bandrang Koreng Pimpinan Tantram

Bapesta Ladang Putus asa Tantilantang

Batambat Lembah Rantau Uzur

Bawaan Madam Versi

Dukun Manyukure

Selain itu saya juga ada banyak menemukan istilah yang “aneh”

Upun Sungei Basir= Dukun Tradisional

Seni mambela arep Palepahan

Pangatawan Baperang Hampahari sapupu

Mambaleh dendam Inunang

Kabuhawa Balangsung

Kalisanga Manyalidik

Mangkuk Badaha Bara titik palhue kabuat

Hiau Uru halalang

Pambelum je tantram

Saya menemukan satu pilihan cara penulisa « lain » : Palakuu, Kayuu, Lewuu, Hunyuuu, Jalanaa, dan Lantinga.

Saya juga menemukan pilihan kata (diksi) yang « heboh » yaitu mampasawe. Pada masa kanak-kanak, kalau kami berani mengucapkan kata ini maka ibu kami tidak segan memukul mulut kami hingga berdarah. Bahkan ada ibu-ibu yang mengoles lombok yang pedas ke mulut anaknya agar jera tidak mengucapkan kata ini. Dalam bahasa Dayak Ngaju kata « mampasawe » tidak digunakan untuk manusia tetapi untuk hewan.

Diksi lain yang bermasalah menurut saya adalah basara. Setahu saya kata basara berarti « Rapat Peradilan Adat » dan tidak sama dengan rapat, atau musyawarah untuk mencari kebulatan pikiran (pumpong).

Hanya sebagai pembanding saja, berikut ini saya menyampaikan contoh terjemahan yang saya buat memakai standar penulisan Dayak Ngaju yang dikenal dengan Ejaan Epple, yaitu

Teks Bahasa Indonesia

PEMUKIMAN BAGI NYOHUNGAN

Rakit-rakit itu terus hanyut dan setelah melewati beberapa teluk dan tanjung, Atung Sempung kembali berkokok. Mereka semua berhenti dansetelah mendapat kesepakatan, maka Nyohungan beserta keluarganya ditetapkan tinggal di tempat ini. Musyawarah ini terpaksa dilakukan karena biasanya Sempung yang menetapkan.

Karena di saran (tepi) sungai itu ada rangan (kerikil), maka tempat ini laludinamakan Saran Rangan. Sekarang desa itu kita kenal dengan nama Sare Rangan, akibat perubahan laal (verbastering). Letaknya termasuk wilayah kecamatan Tewah kabupaten Gunung Mas.

Terjemahan Nahan & Rampai

LEKA MELAI HAGAN NYOHUNGAN

Lanting-lanting te palus bahantung tuntang limbah mahalau papire taluk tuntang rantau, Atung Sempung manandu hindai. Ewen uras tende tuntang limbah dinun kapakat, te Nyohungan kayak babuhaa inetep intu hetuh. Kapakat te tapaksa ilalus awi kilau biasa Sempung je manantu.

Awi intu saran sungei te tege rangan, maka leka tuh balalu inyewut Saran Rangan. Wayah tuh lewu te itah mangatawa bagare Sare Rangan, awi parubahan sewut. Kaduduka tame wilayah kecamatan Tewah kabupaten Gunung Mas.

Terjemahan Mahin

Lewu Akan Nyohungan

Kakare lanting te palus bahantung tuntang mahalau papire teluk tuntang tanjung, te manuk Atung Sempung manandu tinai. Ewen samandiai balalu tende hong eka te. Limbah dinun kabulat pander te Nyohungan tuntang anak-sawae inukas uka mangkalewu hong eka te. Pumpung manggau kabulat pander musti ilalus tagal bahut Sempung je manukase akan ewen.

Haranan hong saran batang danum are rangan, balalu eka te inggare Saran Rangan. Wayah tuh aran eka te hubang manjadi Sare Rangan je aton hong Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas.

Kata sungai dalam bahasa Indonesia tidak bisa diterjemahkan begitusaja menjadi sungei. Dalam bahasa Dayak Ngaju ada perbedaan arti antara sungei dan batang danum (bukan upon sungei – lihat halaman 1). Orang Dayak Ngaju mengenal beberapa kata sehubungan dengan sungai yaitu:

Batang Danum =Sungai Utama

Sampang Batang Danum = Anak dari Sungai Utama

Sungei (batang/bapa sungei = Sungei Kecil yang bermuara di sungai utama atau bermuara di anak dari sungai utama.

Sampang Sungei (anak sungei) = Anak dari Sungai Kecil

Saka (esun sungei) = Cucu dari Sungai Kecil

Sungai Kahayan, Barito, Katingan dan Kapuas adalah batang danum, dan tidak bisa diklasifikasikan sebagai sungei.

Catatan Kelima

Silsilah Para Leluhur

Ketika ditawarkan untuk membahas buku ini saya sangat senang sekali. Apalagi pada bagian sampul depan dituliskan Based On Tatum. Saya membayangkan buku iniadalah hasil transkripsi dari Tetek Tatum yaitu sejarah para leluhur suku Ot Danum yang termasyhur itu, ternyata buku ini adalah hasil penulisan ulang dengan menggunakan beberapa sumber sebelumnya. 8) Sungguh saya kecewa. Apalagi buku ini tidak mencantumkan sumber-sumber yang dipakai. Kemudian sumber yang dipakai juga tidak diuji dengan kritis. Karena itu pada halaman pertama kita menemukan kekacauan-kekacauan silsilah leluhur yaitu:

- Antang Bajela Bulau disamakan dengan Tunggul Garing Janjahunan Laut.

- Lambung dan Lanting disamakan dengan Maharaja Buno dan Maharaja Sangen.

- Karangkang disamakan dengan Maharaja Sangiang

- Lambung atau Maharaja Buno ( yang dalam Panaturan menjadi leluhur manusia yang tinggal di dunia ini) diceriterakan mendapat jodoh di pulau Mako

Seorang Kaharingan yang akrab dengn Panaturan atau sering mendengar Basir Handepang Telon melakukan hanteran akan kebingungan dengan kekacau-balauan silsilah para leluhur itu.

Kenapa terjadi kekacau-balauan ini? Karena bagian ini diambil dari Buku Tjilik Riwut (1958) yang oleh Martin Baier diberi komentar demikian :

« Tjilik !riwut giat mengumpulkan bahan-bahan kebnudayaan dan sejarah Kalimantan dari mana-mana, lalu menerbitkannya sebagai susunannya sendiri. Jarang beliau memberitahukan sumber, darimana beliau menerima dan menyalin bahan adat atau agama-agama suku Kalimantan. Umpamanya halaman 334-370 dengan langsung disalin dari buku Belanda Adatrecht Bundel XXVI halaman 351-375 tanpa pemberitahuan sumbernya. Dalam Panaturannya beliau menyusun unsur mitos penciptaan dari Barito Timur,Katingan dan sebagian dari Kahayan. Sayang sekali, beberapa istilah dan nama tidak dimengerti dan disusun secara salah. Lalu pada tahun 1993 sebuah cetakan baru diterbitkan di Yogyakarta. Dalam buku itu leluhur manusia Maharaja Buno milir sungai Kapuas/Kalbar melalui Kangkamiak – yaitu Pontianak – sampai pulau Mako. Di situ kawin dengan jodohnya Kameloh atau Petak Bulau Tantu Julen Karangan. Mereka memperoleh anak yang menjadi nenek moyang orang Kalteng. Lihatlah, di sini timbul pengaruh dari bermacam-macam kebudayaan lain dari luar Kalimantan, terutama dari kebudayaan Melayu, Banjar , dsb…”9)

Di kalangan masyarakat suku Dayak Ngaju paling sedikit terdapat 25 versi mitos penciptaan atau mitos asal-usul manusia yang dalam basa Sangiang disebut Panaturan. Namun tidak semua dapat digolongkan ke Panaturan yang adalah ceritera suci yang dituturkan oleh para imam Kaharingan dalam upacara menghantar arwah ke sorga loka yang dikenal dengan hanteran.

Panaturan sangat berbeda dari mitos-mitos penciptaan yang dipakai oleh orang biasa untuk mendidik atau menghibur anak-cucunya pada waktu luang. Contohnya pada malam hari, sebelum tidur seorang nenek tua bertutur untuk cucunya tentang Angui Bungai yaitu satu bagian dari cerita penciptaan. Cerita yang dituturkan sebagai dongeng penghantar tidur itu biasanya dalam bahasa sehari-hari, tidak lengkap, hanya satu bagian, dan sarat dengan imajinasi penuturnya.

Panaturan memakai basa Sangiang yaitu bahasa para imam (priestly language) dan hanya digunakan pada saat melakukan ritual agama saja. Karena itu harus dituturkan secara cepat dan tanpa salah, karena bisa menyebabkan roh orang yang meninggal dunia tidak bisa masuk ke dalam sorga-loka. Sedangkan imam yang menuturkannya bisa pingsan, 10) bahkan imam meninggal dunia. 11)

Ceritera asal-usul yang terdapat dalam buku ini tentu saja termasuk pada golongan duniawi (profane) bukan yang sakral (sacred) karena itu sarat dengan imajinasi penuturnya. Dalam mitos penciptaan Dayak Ot Danum dituturkan bahwa penciptaan manusia dilaksanakan oleh pasangan Ranying Pohotara dan Andin Bamban. Manusia laki-laki dan perempuan yang pertama adalah patung tanah yang kemudian dihidupkan dengan memberi nafas yang berasal dari angin. 12)

Sebagai catatan bahwa ada ratusan mitos penciptaan dan mitos asal-usul di kalangan orang Dayak, sesuai dengan adanya ratusan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Setahu saya hanya suku Dayak Ngaju dan Ot Danum saja yang mempunyai mitos nenek moyangnya diturunkan dengan Palangka Bulau. Sebaiknya kita menahan diri untuk tidak menggeneralisasi Dayak dan mitos-mitos sucinya. Dayak adalah nama generic dari ratusan suku pribumi yang ada di pulau Kalimantan, karena itu Dayak tidaklah tunggal, Dayak adalah entities plural.

Anggur Jenewer Lawin Pander

Sebagai buku ceritera, kita tidak bisa menuntut mutu ilmiah dari tulisan ini.Namun minimal ada ukuran umum yang harus dipenuhi antara lain:

  1. Untuk menghindari tudingan plagiat, produk copy paste, serta untuk menjunjung tinggi Hak Intelektual orang lain, sebaiknya dicantumkan sumber tertulis dan tidak tertulis yang dipakai untuk meracik dan meramu buku ini. Sebagai contoh, hanya segelintir orang saja di kota Palangka Raya yang dapat menjadi informan tentang sejarah pemberian nama Kodam XI Tambun Bungai, karena memang bukan pengetahuan umum, nama-nama informan itu mutlak disebutkan. Selain menjunjung tinggi Hak Intelektual juga bagi dari etika penulisan.
  2. Secara khusus untuk terjemahan Basa Dayak Ngaju, sebaiknya memakai kaidah buku Basa Dayak Ngaju. Kaidah buku yang dimaksudkan di sini tidak hanya standar ejaan atau cara penulisan, juga standard bagasa Belom Bahadat, misalnya kapan, di mana dan untuk siapa menggunakan kata “Mampasawe”.
  3. Agar tidak terjadi “penyesatan” perlu dilakukan validasi data.Misalnya buku ini mengatakan bahwa sampai sekarang Dampahan Rambang masih ada sampai sekarang (hlm.27). Apakah memang betul demikian? Ketika mengikuti ekspedisi Muller-Schwaner pada tahun 2005, saya mencoba melacak Dampahan Rambang ini. Namun menurut penduduk Tumbang Topus yang menjadi informan saya, Pantar Rambang atau Dampahan Rambang telah gaib atau tidak ada lagi.
  4. Esensi buku ini adalah Buku Ceritera, karena itu sebaiknya jangan mengajukan (menyelipkan) informasi atau data yang sifatnya spekulatif yang akhirnya hanya akan menadi ilmu pengetahuan semu (pseudeo science) atau menyesatkan pembaca, yaitu antara lain:

- Mengenai manuskrip kuno Tiongkok menyebutkan tentang mendaratnya sekelompok suku dari daerah provinsi Yunan (RRC) di pantai utara pulau Borneo, pada sekitar 700 tahun setelah Masehi dibawah pimpinan Sam Hau Fung (halaman 2).

- Tentang penyerang Kota Bataguh yang secara gamblang disebutkan berasal dari Solok-Mindanao, Filippina (halaman 31).

- Tentang Tiwah yang dijelaskan sebagai pemakaman kedua (halaman 37). Tiwah bukanlah uâcara pemakaman (mangubur) tetapi upacara kematian tahap terakhir. Di dalam upacara Tiwah tidak ada kegiatan pemakaman.

- Tentang TB Silalahi (halaman 40).

Sebagai media pendidikan atau buku ceritera, buku ini bermasalah dalam hal:

  1. Buku ini sarat dengan imajinasi kolonial yang mencitrakan orang Dayak sebagai pengayau (koppensneller, pemburu kepala (head hunter, koopjager). Imajinasi kolonial selalu mensteriotipkan Dayak itu “liar”, “ganas”, “primitif”, “kafir dan « kanibal ». Pada tahun 1887, Perelaer (1887 :217) menulis demikian di dalam bukunya:

“…28 koppen waren buitgemaakt…. De ogen uit de kassen halen ..eindelijk in de schedelholten wroeten om de hersens uit te halen”.

“…28 kepala manusia direbut… mata manusia dicongkel dari lubangnya… terakhir mengorek otak dari tengkorak dengan tangan….”13).

Pencitraan negatif seperti ini akan melahirkan pandangan bahwa Dayak identik dengan kekerasan, primitive dan kanibalisme. Pada gilirannya akan membunuh karakter orang Dayak sendiri. Akibatnya akan ada banyak kaum muda Dayak yang malu menjadi orang Dayak atau menyesal dilahirkan sebagai orang Dayak.

  1. Beberapa bagian dari buku ini sarat dengan nuansa kekerasan (violence) sehingga tidak cocok menjadi bacaan anak-anak. Misalnya tentang pembunuhan seluruh isi kampung dan pemotongan kepala (halaman 28), pembunuhan yang dilakukan oleh Nyai Undang yang diakhiri dengan adegan mengerikan yaitu ia keramas dengan darah orang yang dibunuhnya dengan alasan balas-dendam (halaman 34), dan pembunuhan yang dilakukan oleh Bungai dan Tambun atas semua penduduk Hurung Untung (halaman 37).
  2. Ada bagian ceritera dalam buku in yang kontra produktif dengan kegiatan WWF dalam hal melindungi hewan-hewan langka. Misalnya pada halaman 37 berceritera tentang Tambun berburu burung Enggang.
  3. Saya percaya ada banyak ceritera , mitos dan ajaran para leluhur Dayak yang lebih ramah lingkungan, jauh dari imajinasi colonial yang menyesatkan dan nir-kekerasan (non violence). Misalnya cerita tatun kahiu yang mengajarkan perempuan belajar ilmu beladiri untuk lengatasi suaminya yang suka melakukan KDRT, atau konsepsi bumi sebagai ibu semesta (teologi ibu pertiwi), dst.*****

III

Uraian di atas memperlihatkan bahwa draft buku “The Ot Danum” yang diluncurkan 27 April 2009 lalu di Palma, sebagai bagian dari satu proyek menggunakan dana ratusan juta rupiah bahkan ada yang menyebutnya berjumlah satu miliar (?), acak-acakan, masih memerlukan pengerjaan ulang serius jika ia ingin diterbitkan. ***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————-

JJ.Kusni

Catatan :

4).Lihat OR. 8893 Tatum Bungai Tambun, Tamparan utus Bungai, Tambun Tamparan Bungai Tambun Menteng (inyurat awi Pambarita A. Menggang, Tumbang Marak, 22 Desember 1938), atau Or. 1899 Kasana Bungai Tambun, Kasana Bungai noehing malaut (inyurat awi B. Bahan). Department o Oriental Manuscripts Leiden University Library.

5). Lihat Sejarah Pangdam VI Tanjungpura. Sumber:www.kodam-tanjungpura.mil.id

6).T.B. Silalahi (lahir 17 April 1938, di P. Siantar, Smatera Utara) lulusan Akademi Militer Kasional (AMK) tahun 1961. Jabatan terkakhir di militer adalah Asisten I Kasad dengan pangkat Mayor Jenderal, tahun 1988. Selanjutnya dikaryakan sebagai Sekjen Departemen Pertambangan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998).

7). Wawancara dengan Ideng Rawing Nyaring di desa Tampang, Kuala Kurun, 21 April 2009.

8).Lihat Tjilik Riwut, Kalimantan Memanggil, Jakarta; Percetakan Endang, 1958,dan TimPenelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Kalimantan Tengah, Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Tengah, Diterbitkan oleh: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun Anggaran 1978/1979.

9). Martin Baier, “Form – und textkritische Studien an Ursprungsmythen der Ngaju-Dayak”, dalam Tribus No. 49,Tahun 1999.

10).Hans Schärer, Der Totenkult der Ngadju Dajak in Südborneo, s-Gravenhage: Nijhoff 1966.

11). Sridjani Kuhn-Saptodewo, Zum Seelengeleit bei den Ngaju am Kahayan, München: Akademischer Verlag, 1993.

12). Schärer, Opcit 1963

13). Perelaer J.H. Borneo, Zuid naar Noord deel 2, Elzevier, Rotterdam, 1887

(Selesai)

About these ads

6 comments so far

  1. Nila Riwut on

    Salut buat kerja keras nanda Marco Mahin. Mungkin ada baiknya saya berikan sedikit tanggapan bahwa dimasa lalu Utus Itah atau suku Dayak tidak memiliki aksara. Ketika para peneliti asing mengambil kesimpulan dari penelitiannya, mereka dipengaruhi oleh kerangka berfikir mereka. Lalu budaya kita digiring sesuai dengan kesimpulan mereka. Bagaimana tanggapan kita?. Hanya diam membisu ?, marah ? atau mengimbangi dengan info dari orang dalam sendiri ?. Orang Dalam maksudnya Utus Itah kabuat.
    Kemudian yang namanya Tetek Tatum atau sastra lisan, tentu saja tidak seragam. Setiap orang punya versi sendiri ada yang ditambah, ada yang dikurangi, sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing. Lalu siapa yang paling benar ?.Ketika kecil mulut saya tidak pernah dipukul hingga berdarah apabila saya menyebutkan kata masawe yang menurut sdr Marco Mahin hanya pantas buat binatang. Demikian pula dalam catatan bapak Tjilik Riwut, banyak saya temukan kata masawe tidak hanya ditujukan kepada para binatang. Rasanya tidak perlu saya mengambil kesimpulan atau saling mempertahankan siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya hanya mengajak sdr Marco Mahin untuk berfikir dan merenung, mari kita mensyukuri kerja keras tanpa pamrih yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita, minimal sebagai referensi, lagi pula menghakimi adalah tugas para hakim dipengadilan bukan tugas kita. Demikian dan Terima Kasih.

  2. aq on

    Buku-buku bahasa Dayak seharusnya lebih diperhatikan dan diperluas lagi khususnya untuk masyarakat Dayak itu sendiri,jadi suku Dayak tidak menjadi “buta” akan cerita-cerita yang telah dikisahkan oleh pendahulu.Demikian pula Bahasa Sangiang,seharusnya dilestarikan dan dicari sumber yang terpercaya untuk dibukukan.Saya pernah mendengar ada orang mengolok-olok seseorang yang beragama Kaharingan.Saat itu sedang acara pernikahan di selenggarakan di gedung batang garing,jadi yang datang banyak orang-orang “berduit”.Saat orang Kaharingan itu masuk bersalam-salaman ada seorang bapa-bapak setengah baya berdasi yang berkata” halamei kareh ikau manyangiang”(nanti sore kamu yang menyangiang) dengan nada mengejek sambil tertawa-tawa.Orang Dayak tersebut hanya bisa diam saja,karena tidak mau mencari masalah di acara orang.Itu memperlihatkan bahwa Orang Dayak Kaharingan apalagi yang punya kemampuan khusus di bidang Agama Kaharingan akan selalu dipermalukan seolah-olah mereka adalah orang-orang “kampungan”.Saya bingung dengan orang-orang yang selalu memojokkan seperti itu,padahal Orang Dayak Kaharingan tidak akan mengganggu mereka bila mampu menjaga kelestarian Adat Dayak.Atau mungkin mereka merasa seluruh kebudayaan Dayak seharusnya dimusnahkan saja?Jadi mereka bisa membanggakan budaya orang yang sebetulnya hanya mau membodohi mereka agar mengikuti budaya asing tersebut?Padahal yang bisa membela dan menghargai sesama Suku Dayak hanya Suku Dayak itu sendiri kalau mau bersatu padu.Sifat kekeluargaan Suku Dayak sebenarnya sangat kuat,asal tahu sesama Suku Dayak walau pun tidak saling kenal,walau dari daerah berbeda maka Orang-orang Dayak tersebut akan langsung menjalin persaudaraan.Dan biasanya masyarakat Suku Dayak akan tahu yang mana orang-orang yang benar-benar berasal dari Suku Dayak atau bukan.Demikian pul dengan suku lain,Masyarakat Suku Dayak tidak mungkin akan membuat masalah jika tidak adanya pihak lain yang berusaha memicu masalah tersebut,dan biasanya Suku Dayak memiliki Kemampuan untuk melihat siapa sumber masalah tersebut kemudian baru masyarakat Suku Dayak akan membela bangsa dan tanah tumpah darahnya sampai titik darah penghabisan.
    Maaf,saya tidak bermaksud untuk mengungkit masalah SARA,saya hanya berusaha memperjelas kekeliruan orang-orang pada umumnya terhadap masyarakat Dayak selama ini.

  3. shinta on

    Ass. Wr. Wb,
    Usul untuk Ibu Andriani & Bapak Kusni, bagaimana jika blog ini dilengkapi dengan daftar khusus buku bacaan yang digunakan dalam menyusun tulisan-tulisan di blog ini? Terima kasih atas pengetahuan-pengetahuan yang disiarkan. Salam dari Padang. Wass.

  4. Linda on

    SElamat pagi saya tertarik dengan tulisan ini , sangat memberikan informasi unutk kami…..mohon juga agar dicantumkan daftar buku referensinya….saya masih belum paham , apkah Tambun dan BUngai ini hanya mitos ataukah memang ada orang nya pernah hidup di kalteng ini?..dan kapan mereka pernah hidup , dimana?…..tks……salam….salut buat penulisnya…

  5. Linda on

    Salam hormat unutk pak JJ Kusni penulis blog ini …sangat bagus memberikan info untuk kaum generasi muda….salam hormat Pak…Teruskan Pak menjadi teladan dlam berkarya…salom

  6. Evo Tanjung on

    Bagus sekali untuk info dari blogx ini Bapak & Ibu Kusni…
    Mudahan saja untuk hal2 penting seperti ini bisa tersampaikan untuk masyarakat Dayak Kalteng dengan benar….
    Karena untuk hal2 seperti ini banyak sekali versi yang di sampaikan kepada para kaum muda dan terus terang banyak kebingungan untuk bisa menerima info tersebut….
    Harapan saya mudahan di terbitkannya buku tentang sejarah Kalimantan Tengah tentunya juga mudah di dapatkan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: