PERGESERAN RASA, MAKNA DAN NUANSA KOSAKATA

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


Suatu malam, Nunut, keponakan saya yang bertugas sebagai bagian keamanan Wisma Edelweis, seusai semua pekerjaannya, duduk santai dan berbincang-bincang dengan para tamu di ruang salon. Pada umumnya, para tamu yang menginap untuk waktu beberapa bulan di Wisma terdiri dari para pejabat, pengusaha atau para perwira tinggi polisi yang sedang menunggu penempatan.

« Apakah kamu memerlukan sprei baru », tanya Nunut sopan dalam bahasa Indonesia dengan lidah Dayaknya.

Mendengar penggunaan kata ganti orang kedua tunggal itu, terus-terang saya merasa kaget, berkata pada diri sendiri: “Khoq jadi begini?”

Pertanyaan “jadi begini” ini muncul di benak, karena saya merasa kata ganti tersebut sebagai sangat kasar. Tidak layak diucapkan kepada tamu dan dari JawaTengah pula, yang dikenal mempunyai tingkat-tingkat bahasa. Halus dan kasar. Anak muda, apabila berbicara dengan yang lebih tua, berkedudukan dan lebih-lebih yang berdrah biru, niscaya menggunakan bahasa ”kromo inggil” , bukan bahasa Jawa “ngoko”. Ann sendiri yang besar di Makassar, yang bukan tempat orang-orang berperasaan dan berperangai “halus”, sangat marah pada saya kalau saya memanggilnya dengan “kau” , apalagi “kamu”. “Kau”, dipandangnya panggilan kasar dan tidak menghormatinya. Padahal di Tanah Dayak “ikau” (kau), biasa digunakan oleh anak kepada paman, ayah, ibu, kakek atau nenek. Yang terlarang adalah menyebut mereka dengan nama sesungguhnya. Sebagai pengganti, mereka diberikan gelar atau nama kecil. Untuk waktu lama, menjawab orang yang menanyakan nama ayah dan ibu, mereka saya jawab hanya dengan menuliskan nama mereka. Selama saya menjadi mahasiswa dengan teman-teman dari luar Jawa, dalam pergaulan kami selalu menggunakan kata ganti nama kedua tuggal dengan “kau”, tapi tidak pernah menggunakan kata “kamu”. “Kamu” kami rasakan sangat kasar dari segi rasa bahasa dan arti kata. Nyatanya sekarang dalam bahasa gaul, baik di radio dan televisi kata “kamu” selalu digunakan dan dipakai dengan tenang sebagaimana kata ganti nama tersebut selayaknya digunakan.

Terdapat juga keheranan dan ketidakpahaman pada diri saya. Ann adalah seorang mantan penyiar radio Delta di Makassar. Muda, tidak lebih tua dari para penyiar radio gelombang panjang dan televisi yang sering kita saksikan saban hari dan malam sekarang. Tapi ia menganggap “kau”, apalagi “kamu” sebagai kata ganti nama yang niscaya sesuai tatakrama kepada lawan bicara berapa pun usia mereka. Ann sejak kecil dididik oleh ibu bahwa kata “kau”, “kamu” adalah kata ganti orang yang digunakan dalam bahasa “pasar”. Tapi menjadi jamaknya penggunaan kata “kamu” sebagai kata ganti menunjukkan peran radio, televisi dan pendidikan dalam membentuk kebiasaan, nilai dominan dan pengaruh alat komunikasi tersebut terhadap pembentukan bahasa, pergeseran rasa dan makna kosakata. Pengaruh ini makin besar oleh adanya parabola hingga ke daerah-daerah jauh hulu. Contoh di atas, juga memeperlihatkan peran ruang dan waktu terhadap pergeseran rasa dan makna kosakata. Di samping itu, hal yang tak kurang pentingnya adalah status sosial dan ekonomi. Misalnya yang terjadi kata “genduk” dalam bahasa Jawa. Pengertian awal “genduk” dalam masyarakat Jawa Tengah adalah “vagina”. Untuk mengungkapkan rasa sayang, orangtua atau tante, biasa memanggil anak perempuannya dengan panggilan “genduk”. Tapi dalam perkembangan selanjutnya, di Solo, para keluarga yang menggunakan tenaga pembantu rumah tangga, sering memakai kosakata “genduk” saat memanggil pembantu mereka. Oleh keadaan demikian, perlahan-lahan kata “genduk” merupakan padanan bagi kata “pembantu rumah tangga”. Dari pergeseran rasa dan makna kosakata demikian, kita bisa melihat dinamika bahasa, termasuk kotakata yang mencerminkan perkembangan masyarakat dalam beberapa segi serta pembentukan nilai dominan pada suatu ruang dan waktu tertentu.

Kata Dayak, pada suatu kurun waktu yang cukup panjang, menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan di kalangan cendekiawan-cendekiawan Dayak. Dayak, dirasakan sebagai suatu hinaan terhadap manusia Dayak, paralel dengan yang disebut oleh kaum kolonial Belanda bahwa “Dajakers” berarti kata yang menunjukkan semua keburukan dan kejahatan. Pengertian yang juga terkandung dalam “ragi usang”, politik kebudayaan kolonial Belanda yang diterapkannya terhadap kebudayaan Dayak. Polemik tak berkesudahan ini kemudian pada 1992 diselesaikan dalam Kongres Nasional Dayak di Pontianak. Kongres berkeputusan selain menghentikan polemik tanpa ujung dan guna ini, menerima kata Dayak yang tadinya dimaksudkan untuk menghina manusia Dayak. Penerimaan yang sekaligus berketetapan mengobah hinaan menjadi sesuatu yang bermakna positif, memiliki makna baru dengan memperlihatkan adanya Dayak yang bermutu, mengisi kosakata tersebut dengan isi dan nilai baru yang positif membanggakan. Bahwa menjadi Dayak tidaklah memalukan sebagaimana perasaan yang diidap oleh orang Dayak selama dasawarsa akibat penindasan budaya yang dialami etnik ini.

Pergeseran rasa dan makna kosakata yang nampak dari contoh-contoh di atas, barangkali bisa dipahami sebagai peran dan pengaruh kota sebagai sentra kebudayaan terhadap perkembangan budaya suatu bangsa, betapa pun jumlah desa masih jauh lebih banyak dari kota. Kota sebagai sentra kebudayaan, jauh lebih banyak tersentuh dan berhubungan dengan budaya dunia luar. Melalui sarana komunikasi dengan tekhnologi canggih, kota mempengaruhi daerah pedesaan sehingga mempengaruhi nilai dominant pada suatu kurun waktu suatu bangsa. Melalui kata-kata merendahkan desa seperti “kampungan”, “ndeso”, “ndesit”, “debat kusir”, dan sejenisnya, melakukan suatu ofensif kebudayaan dan nilai untuk menempatkan standar kota tanpa filter sebagai penentu modern dan kolot, maju dan terbelakang, baik dan buruk, bermutu dan tidak. Jika kita sepakat dan mengenal bahwa budaya desa atau kampung itu tidak serendah yang dinilai dan dilihat dari kota, barangkali kita bisa menghadapi masukan-masukan dari luar, termasuk yang disebut budaya kota dengan filter. Filternya bernama ketanggapan menjawab pertanyaan zaman. Perlunya filter begini meniscayakan kita mengenal budaya kita sendiri. Sayangnya, yang banyak terjadi adalah keadaan bahwa sekali pun seseorang berada di negeri itu sendiri, tidak sedikit kita tidak mengenal budaya dan nilai-nilai kita sendiri. Terkesan pada saya jika kita banyak mengacu ke literatur asing dan negeri luar, maka sikap kita makin rasional, karya tulis kita makin “ilmiah”. Apakah budaya kota dengan peran seperti di atas dibentuk melalui filter juga? Filter budaya, barangkali, selain dilakukan sesuai keperluan tanggap terhadap pertanyaan zaman, bisa juga dilakukan melalui politik kebudayaan dan atau kesadaran yang bertolak dari suatu wawasan tentang makna dari suatu nama bangsa atau negeri seperti Indonesia, Perancis, Viêt Nam, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, dan sebagainya… Dari segi ini, bisa dikatakan bahwa Indonesia, sebagai nama dari suatu bangsa berfungsi sebagai filter juga adanya.

Kosakata mengandung nilai, rasa, makna dan nuansa. Hal-hal ini, terutama nuansa seperti penyulingan terhadap unsur-unsur yang tak terolah, hingga barang yang setelah melalui menyulingan mencapai mutu baru atas zat dasar atau hal-hal yang mau disampaikan. Kebudayaan, termasuk kosakata atau diksi, boleh jadi merupakan hasil penyulingan. Dari segi sudut pandang demikian, apakah kosakata « kamu » buahndari proses penyulingan ?

« Vous » dan « tu » adalah dua kosakata untuk Anda, kau, saudara dalam bahasa Perancis. « Vous » mengandung unsur menghormati tapi juga sekaligus pengambilan jarak terhadap lawan bicara (inter-locuteur). Sedangkan kata « tu », selain mengandung unsur penghormatan tapi jarak dengan lawan bicara sudah ditiadakan. « Tu » mencerminkan keadaan bahwa yang berbicara atau berkomunikasi sudah merasa sangat dekat. Antara « vous » dan « tu » terdapat perbedaan rasa, makna dan nuansa yang sangat berarti. Pembedaan pemakaian dua kosakata tersebut mengandung suatu tatanan nilai, tatakrama dalam masyarakat Perancis yang dipegang kuat dalam masyarakat sehingga kata ganti, kosakata penyapa yang kunci seperti « bonjour », « comment allez-vous », « merci », « pardon », menjadi hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari dan masih dipertahankan sampai sekarang. Kata-kata penyapa dan pergaulan ini dipandang sebagai termasuk penakar tingkat budaya seseorang. Di tengah-tengah pergaulan internasional dengan segala ragam budayanya, Perancis masih mempertahankan tatanan nilai, rasa, nuansa dan makna kata-kata mereka sebagai tanda jati diri mereka. Mempertahankan tatanan nilai, rasa, nuansa dan makna kata, agaknya di Perancis, bisa dikatakan sebagai suatu kesadaran berbahasa. Bahkan kata-kata makian pun diusahakan untuk diperhalus. Misalnya « merde»  (tai, tinja), diperhalus menjadi « zut ». Boleh jadi penghalusan bahasa dan diksi oleh tetua kita dirumuskan dalam kesimpulan bahwa  »bahasa menunjukkan bangsa ». Yang menarik perhatian saya, bahwa anak-anak, sejak Play Group (Grup Bermain) dan Taman-Kanak-Kanak akan ditegur keras jika mereka menggunakan kata-kata makian betapa pun sudah diperhalus. Sebagai gantinya yang sering terdengar diucapkan oleh anak-anak kalau mereka marah adalah kata-kata : “Tu es nul » (Kau bernilai nol) ». Anak-anak kecil akan merasa sangat sakit hingga bisa menangis jika mereka dinilai seharga nol.

Yang menjadi pertanyaan saya: Apakah pergeseran rasa, makna, nuansa dan nilai dalam kata, dengan pengakuan akan dinamika bahasa, tidak semestinya lagi mengindahkan tatanan nilai dalam berkomunikasi manusia bermasyarakat ? Membicarakan soal kosakata, saya sedang berbicara tentang perkembangan bahasa di negeri kita dan kesadaran berbahasa serta tatanan nilai untuk hidup berbudaya.****

Palangka Raya, April 2009

———————————

JJ. Kusni

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: