KERAJINAN TANGAN RAKYAT, PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA

Jurnal Toddopuli

(Cerita Dari Katingan Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Pagi jam 09:00, Ann dan saya keluar dari Wisma Edelweis menggunakan angkot ke ujung Jalan Yos Sudarso yang selain merupakan pusat rumah makan, juga merupakan tempat beberapa kantor pemerintah serta kampus Universitas Negeri Palangka Raya (UNPAR) dengan puluhan ribu mahasiswanya. Tujuan pertama kami adalah kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

Menurut keterangan awal yang kami dengar, pada 19-23 Mei 2009 mendatang, akan menyelenggarakan eksposisi kerajinan tangan se Kalteng bertempat di Gedung Pertemuan Tambun Bungai yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Menurut keterangan yang saya peroleh di Kasongan, ibukota kabupaten Katingan, pameran kerajinan tangan ini diselenggarakan secara teratur oleh Disperindag, bukan hanya di dalam wilayah propinsi tapi bahkan sampai ke daerah-daerah lain seperti Bali, Jakarta, Batam, dan lain-lain, dalam rangka mempromosi hasil kerajinan tangan Kalteng. Waktu berada di Yogyakarta dan Bali, saya mendengar dari para pedagang kerajinan tangan di sepanjang jalan Malioboro dan tokoh-toko di Bali, bahwa kedua tempat ini merupakan salah satu tempat pelemparan hasil-hasil kerajinan tangan dari Kalteng, tapi tanpa mencantumkan tanda-tanda Kalteng pada produk tersebut. Hanya yang mengenal Tanah Dayak akan dengan segera mendeteksi asal produk tersebut. Bukan hanya itu, bahkan di Jalan Sleman Yogyakarta, terdapat pusat pembuatan kerajinan Dayak dengan bahan-bahan dari Kalteng. Barangkali, dari keadaan begini, kita melihat adanya masalah hak paten untuk suatu karya dan intelektual yang belum menjadi perhatian banyak kalangan, sehingga beberapa tanaman Kalimantan pun dipatenkan oleh pihak mancanegara. Kita hanya berpikir bagaimana barang itu terjual dan segera mendapat uang, tapi tidak berpikir tentang kelanjutannya yang jauh. Kolom Palui – cerita rakyat yang aslinya dari Tanah Dayak – bahkan semacam diambil alih Kalsel melalui ruang tetap di Harian Banjarmasin Pos.

Eksposisi kerajinan tangan se Kalteng yang akan diselenggarakan oleh Disperindag pada Mei mendatang sampai sekarang belum muncul di spanduk-spanduk atau pun di kolom-kolom Koran lokal. Sampai tanggal 26 April 2009, pihak yang mendatar, berdasarkan formulir yang disodorkan kepada kami, baru Andriani S. Kusni sendiri, yang bermaksud menghadirkan produk-produk dari Sulawesi Selatan. Barangkali kegiatan penting dan mempunyai nilai ekonomi begini, dipandang tidak memerlukan sosialisasi dan pemberitaan, apalagi penyelenggaraannya akan dibarengi dengan penyelenggaraan Festival Kesenian Isen Mulang yang ke-3 (?). Di sekretariat eksposisi pun ketika kami datang, tidak nampak kesibukan, untuk tidak mengatakan sepi. Sementara pada tahun 2008, ekspo ini diikuti juga antara lain oleh peserta-peserta dari luar Kalteng, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku Uara, Bali, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Banten, Papua dan Propinsi DKI Jakarta.

Usai mengambil formulir pendaftaran sebagai peserta dan mendapat informasi lanjut, kami meneruskan perjalanan ke Palangka Raya Mall (Palma) di mana diselenggarakan Peringatan Hari Bumi 22 April oleh WWF Kalteng, pada 25 April dibuka oleh Wakil Gubernur, Ir. A. Diran, dan membacakan pidato Gubernur A. Teras Narang, karena Gubernur berada di Jakarta mengikuti rapat Gubernur se Indonesia yang dipimpin oleh Presiden.

Di salah satu stand kecil dipamerkan hasil-hasil kerajinan tangan Dayak berbahankan rotan seperti topi, tas berbagai desain dan ukuran. Setelah memperhatikan produk kerajinan tangan ini dengan cermat satu demi satu, Ann berkomentar : “Harganya koq mahal sekali. Di Yogya, Mi membeli tas Dayak lebih besar dengan desain lebih indah seharga Rp.100.000. Di sini tas kecil berdesain lebih sederhana berharga Rp.200 ribu”. Saya turut memperhatikan harga yang tertera di produk-produk tersebut.

“Benar juga. Bagaimana mereka bisa bersaing dengan produk sama dari daerah lain”, ujarku. Persoalan harga begini sudah lama saya ketahui permasalahannya, karena selama beberapa tahun ketika berada di Kalteng, saya pernah menangani kerajinan tangan ini, sampai sempat membuka sebuah kedai kecil di daerah Candi Prambanan untuk menjual berbagai macam produk kerajinan tangan Kalteng, berkeliling Kalteng menjual produk kami.

Seorang perempuan setengah baya, yang ternyata pernah membantu kami di kampus Unpar, ketika mencari perpustakaan Unpar dan Fakultas Tekhnik, mendengar komentar Ann langsung mendekat. Perempuan setengah baya ini adalah dosen Fakultas Kehutanan tapi di samping sebagai dosen, karena memang suka menganyam, ia mengembangkan hobinya dalam bentuk membuka usaha kecil-kecilan kerajinan tangan.

“Produk-produk ini saya buat di Yogya atau Bali. Bahan-bahannya saya kirim dari Palangka Raya. Desain, penjahitan dan asesoris dilakukan di Bali atau Yogya. Setelah selesai mereka kirim kembali ke mari”, jelas perempuan setengah baya itu dengan ramah dalam bahasa Indonesia.

“Karena itu harganya jadi dua kali lipat dibandingkan dengan harga Yogya atau Bali”, lanjutnya.

“Mengapattidak dilakukan di Kalteng saja?” tanya saya.

“Di sini, kita tidak mempunyai mesinnya”.

“Berapa harga mesin yang diperlukan itu ? »

“Sekitar empat sampai lima juta rupiah. Kalau pun kita punya mesin, setelah itu akan muncul persoalan baru yaitu jika mesin itu rusak, kita tidak mempunyai kemampuan memperbaikinya. Jika terjadi hal demikian, produksi pun tersendat bahkan macet”.

“Jika dilakukan penataran, bagaimana?”

“Penataran pernah dilakukan, tapi ternyata tidak cukup hanya berlangsung seminggu seperti yang pernah dilakukan. Untuk pelatihan lebih lama, diperlukan dana lebih besar. Kita tidak mempunyai syarat untuk melakukannya ”.

Lagi-lagi saya berjumpa dengan kendala dan alasan klasik: Dana! Sementara kebocoran dana dalam miliaran rupiah terjadi di berbagai sektor dan berbagain tingkat. Mengikuti logika begini maka kerajinan tangan Kalteng akan berada dalam lingkaran setan keterpurukan terus-menerus. Dari keterpurukan, bukan tidak mungkin akan melenyap seperti halnya keterampilan membuat sumpitan, mandau, parang, cangkul, pisau dan alat-alat rumah tangga menurun ketika baputan, tanur kecil khas Dayak, sudah hampir melenyap dan hanya tinggal di hulu-hulu berbarengan dengan keterampilan membuat gula tebu, menggiling padi dengan “putar”, atau lenyapnya keterampilan membuat sabun dan kain di kalangan masyarakat Dayak Kalteng.

Jahitan produk-produk yang dibuat di Yogya dan Bali pun ternyata masih kurang cermat dan kurang rapi sehingga untuk standar ekspor barangkali tidak bisa masuk kategori.

Kelemahan desain yang dikritik oleh Ann selaku desainer, memang saya dapatkan di desa-desa pengrajin jauh di pedalaman Kalteng, saat saya turun.Warna produk pun masih sangat tradisional, dilakukan dengan cara-cara yang dilakukan oleh ibu alm. Hitam, putih, merah dan kuning. Pernah kami mendapat pesanan topi rotan tanpa warna, dalam jumlah jutaan secara berkala. Namun produsen di pedesaan dengan tekhnik berpdroduksi mereka, tidak mampu melayani pesanan ini.Yang terjadi selama ini adalah produk-produk dari desa dikumpulkan oleh para tengkulak dan tengkulak inilah yang menentukan harga baik dari produser langsung mau pun atas harga di pasar.

Dari kasus-kasus di atas nampak bahwa kemampuan dan tekhnik berproduksi sehongga mampu berproduksi dalam jumlah besar, masalah estetika atau mutu, yang mencakup varian warna, desain dan asesoris, tekhnik jahit-menjahit produk sehingga daya tahan produk relati terjamin, tanpa cacat, ketepatan waktu berproduksi, akan membantu usaha pemasaran. Yang menjadi pertanyaan saya: Seandainya kita mendapatkan pasar untuk produk-produk demikian, apakah ketepatan waktu livraison (penyerahan atau pengiriman pesanan) , jumlah dan mutu bisa dipenuhi? Bisakah pengrajin kita menjadi pengrajin profesional menggunakan cara-cara perdagangan internasional seperti LC, asuransi, kontrol mutu, dan lain-lain. Pertanyaan ini muncul di benak saya, sebab dengan cara berproduksi sekarang dan cara pemasaran produk menggunakan jasa tengkulak selain tidak membantu pengrajin secara langsung, juga tidak akan bisa memenuhi standar perdagangan internasional. Barangkali LSM profesional bisa memainkan peran menanganinya. Termasuk menangani soal pelatihan guna peningkatan mutu produk sehingga bisa memenuhi tuntutan pasar internasional. Sebaiknya juga, para pengrajin diorganisasi dalam bentuk koperasi. Dengan bentuk koperasi dibandingkan dengan pengusahaan individual atau bentuk PT, para pengrajin relatif dipermudah mendapatkan patner-patner luar negeri. Di Perancis, Jerman, Belanda, bahkan Amerika Latin dan Afrika, serta negeri-negeri lain, terdapat memang LSM-LSM internasional yang bersedia membantu pemasaran atau membeli produk-produk kerajinan tangan rakyat. Artisan du Monde adalah salah satu LSM demikian yang mempunyai cabang di berbagai negeri dan banyak membeli produk-produk dari Muangthai, Philipina, negeri-negeri Indo Cina. Juga CCFD (Komite Katolik Melawan Kelaparan Untuk Pembangunan), Secours Populaire Perancis, adalah lembaga-lembaga internasional yang pernah membantu Indonesia dalam mengelola dan memasarkan produk-produk kerajinan tangan Indonesia. Secours Populaire pernah selama bertahun-tahun memberi pekerjaan pada semua penduduk sebuah desa di Jawa Barat dengan membeli produk kerajinan tangan desa tersebut yang dibuat dari padi dan batang padi atau bulu ayam. Kegiatan Secours Populaire ini berhenti oleh ancaman dari segi keamanan yang mereka rasakan pada masa Orde Baru. Artinya dikarenakan soal politik. Kegiatan bantuan lalu dialihkan ke India dan Nepal.

Peluang lain yang bisa dimanfaatkan untuk promosi produk-produk kerajinan tangan rakyat ini adalah pameran dagang internasional, misalnya di Paris. Kedubes Indonesia nampaknya mengulurkan tangan untuk pengusaha-pengusaha Indonesia untuk bisa hadir dalam pameran dagang internasional ini. Jika pemerintah memang mendorong pengembangan koperasi dan kerajinan tangan rakyat, mengapa tidak, koperasi pengrajin begini didorong dengan bantuan kongkret, atau para pengrajin masuk ke dalam koperasi-koperasi Credit Union yang sekarang sudah mulai berkembang di Kalteng? Yang tidak kurang pentingnya juga dalam usaha mengembangkan, memasarkan produk-produk kerajinan tangan rakyat, barangkali adalah wacana, wawasan pengembangan. Wawasan, konsep akan menentukan orientasi dan cara pengembangan, pemasaran dan mencari serta mendapatkan mitra usaha lokal, nasional dan internasional. Liberalisme globalisasi, sebagai perkembangan mutakhir kapitalisme kekinian adalah satu orientasi, sedangkan Alter Mondial adalah orientasi lain lagi. Wawasan ini pulalah yang menentukan mengapa propinsi ini mengembangkan perkebunan sawit serta mengkebelakangkan karet yang mentradisi di kalangan rakyat serta tidak merusak tanah. Dengan demikian, quo vadis, mau ke mana, tetap menjadi sebuah pertanyaan klasik, juga bagi Kalimantan dan tanahair, dulu dan sekarang, termasuk bagi dunia kerajinan tangan. Pertanyaan yang menunggu jawaban tanggap kita semua. ****

Palangka Raya, April 2009

——————————-

JJ. Kusni

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: