DARI EDELWEIS KE RUNGAN SARI

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Pukul sepuluh pagi, Ann dan saya keluar Wisma Edelweis, sebuah penginapan cukup baik milik adik saya, di mana kami menginap selama berurusan di Palangka Raya. Dibandingkan dengan hotel-hotel dan wisma lain, Edelweis memang bisa dikatakan cukup mewah. Delapan belas kamar bangunan dengan halaman parkir cukup luas selalu terisi oleh tamu dari berbagai penjuru tanah air, terutama para pejabat, pengusaha, dan aparat keamanan yang sedang menunggu pos baru di Kalteng, dihijaukan oleh tanaman-tanaman hias dan dirindangi oleh pepohonan buah-buahan seperti mangga dan rambutan. Sebuah parit selebar tiga meter dengan kedalaman dua meter, membujur di depan wisma dengan air warna kemerahan, yang selalu mengalir di dalamnya. Parit ini, seperti halnya sungai Kahayan dan sungai-sungai lain di Kalteng menjadi parit dan sungai pembuangan sampah.

Wisma Edelweis sesungguhnya lebih berungsi sebagai tempat pemondokan. Sebab orang-orang yang tinggal di sini bukanlah mereka yang tinggal dalam takaran waktu sehari dua, tapi bulan. Tarif untuk jenis kamar ber AC dan bertelevisi, sebesar satu juta supiah sebulan, sedangkan tariff bagi kamar yang tanpa teleivisi dan AC, hanya dilengkapi dengan kipas angin, sebesar Rp.600 ribu per bulan. Penghuni kedua jenis kamar tidak dijamin makanan dan minuman mereka. Untuk makan-minum dan keperluan-keperluan lain, para pemondok bisa mendapatkannya di restoran dan warung yang berderet di sepanjang Jalan Yos Sudarso salah satu jalan protokol ibukota Kalteng dan tak jauh dari kampus Universitas Negeri Palangka Raya. Taksi, nama angkot di sini, satu-satunyan angkutan umum, lalu-lalang sampai jam 21.00, memudahkan kita pergi dari Wisma ke segala jurusan yang dituju. Kendaraan umum masih sangat terbatas di Palangka Raya yang mempunyai jalan lebar-lebar mulus. Sayangnya, trotoar untuk pejalan kaki kurang diperhatikan, seperti halnya dengan kota-kota mana pun di Indonesia hingga mengesankan jalan raya terutama disediakan untuk pejalan kaki. Saya tidak tahu bagaimana propinsi ini mengembangkan turisme jika sarana turisme paling minimal saja tidak memadai.

Berjalan kaki sesudah jam sebelas siang hingga jam 16:30, sekali pun bagi orang yang biasa dan suka berjalan kaki, memerlukan tekad untuk menarungi terik matahari bersuhu 35° di tanah yang berpasir putih memantul kembali ke muka dan seluruh tubuh kita dari aspal. Suhu kota mulai nyaman sejak pukul lima petang, saat warung-warung tenda milik berbagai pedagang makanan dari berbagai pulau. Jalan Yos Sudarso oleh pemerintah kotapraja memang disediakan khusus tempat pemusatan warung dan retoran. Mulai jam-jam sedemikian, Jalan Yos Sudarso yang kedua nsisinya ditempati oleh gedung-gedung pemda dan hotel-hotel besar, mulai riuh dan hidup kembali oleh berbagai ragam musik, terutama musik dangdut menemani penduduk yang keluar bersantai. Sepeda motor merupakan kendaraan paling umum digunakan dan barangkali merupakan kendaraan yang paling praktis. Hanya saja, para pengendaranya sangat minim etika sehingga mereka jugalah yang paling banyak menjadi korban kecelakaan lalulintas di kota berpenduduk kuranglebih 500 .000 orang ini. Pengendara-pengendara sepeda motor di kota yang belum mengenal kemacetan ini, bisa tiba-tiba memotong jalan mobil dengan jarak hanya satu meter, atau menyelit dua truk yang bersilang arah tanpa melakukan perhitungan cermat. Etika berkendaraan agaknya masih kurang dikhayati di sini. Kecepatan mengendara juga tak dihitung-hitung. Menurut keterangan dari yang pernah melakukannya, di kota yang berslogankan “Isen Mulang” ini, terdapat kelompok geng bersepeda motor. Bukan hanya itu. Di sini pun terdapat kelompok-kelompok geng yang di zaman remaja saya dulu disebut “cross boy”. Narkoba, judi , minum dan pengangguran diikuti oleh pencurian, nampaknya cukup menjangkiti kalangan muda dan mahasiswa. Waktu saya tinggal di rumah kontrakan di Gang Batu Hurun hingga tahun 1999, saban malam di jalan raya di_depan rumah, para mahasiswa menggelarkan tikar rotan untuk tempat berjudi sehingga memaksa RT mengambul tindakan menghalau mereka dari kampung. Apakah gejala-gejala sosial begini mempunyai kaitan dengan kelompok-kelompok geng “cross boy” atau tidak?

Hal yang unik juga di Palangka Raya bahwa harian-harian terkemuka seperti Harian Kalteng Pos, misalnya sejak lama, sering menyediakan kolom tentang masalah-masalah hubungan seks, seperti selingkuh dan perkosaan. Bahkan masalah kondom terdapat di stadion sepakbola atau di depan rumah atau di kantor diangkat sebagai berita atau artikel yang meminta kolom tidak kecil. Barangkali kebijakan begini, dimaksudkan sebagai selingan ringan dan untuk menambah jumlah pembaca di tengah persaingan di dunia bisnis media massa. Di Palangka Raya saja terdapat tiga harian utama, yaitu Harian Kalteng Pos, Harian Palangka Raya Pos, Dayak Pos, tabloid Detak, Warta Borneo, Bawi, ditambah dengan penerbitan-penerbitan di tiap kabupaten seperti Katingan Pos, Radar Sampit, dan lain-lain.

Ciri umum halaman-halaman rumah di Palangka Raya, di Kalteng, adalah halaman-halaman yang tak terawat , tidak tertata, keadaan yang saya duga sebagai sisa produk dari estetika peladang berpindah. Halaman rumah dan kantor, besar-besar, tapi dari segi estetika, ruang halaman besar-besar itu sama sekali tak tergarap.

***

Menembus terik kota yang mulai menanjak seiring dengan naiknya matahari, Ann dan saya keluar dari Edelweis menuju Tangkiling, terletak sekitar 30 km dari Palangka Raya memenuhi panggilan Sekolah Internasional Plus Pertama yang didanai oleh Subud internasional. Tangkiling adalah “markas besar” Subud internasional. Beberapa tahun silam, sekitar tahun 1999an, di Palangka Raya Subud sudah menyiapkan konfrensi internasional mereka. Dibatalkan karena pertimbangan keamanan oleh benih-benih konflik antar etnik di Kalteng yang mulai memanas. Berita yang gencar tersebar pada waktu itu bahwa Subud mau memindahkan kantor pusat mereka ke Palangka Raya. Dunia pendidikan hanyalah salah satu bidang kegiatan yang ditangani oleh Subud. Yang mencemaskan saya, dari kegiatan kelompok Subud yang bermarkas di kompleks Rongan 1) Sari, Tangkiling, adalah pernyataan tertulis di salahsatu dokumen yang sempat sampai ke tangan saya yang “menyetan-nyetankan budaya Dayak”, persis seperti politik “ragi usang” yang dilaksanakan oleh kolonialias Belanda dahulu mendahului agresi militer mereka. Politik budaya “ragi usang” dan pandangan komunitas Subud yang menyetan-nyetankan budaya Dayak, adalah dua politik parallel dan merupakan bentuk agresi terang-terangan di bidang kebudayaan terhadap orang Dayak. Masalah ini pernah saya angkat dan perdebatkan di berbagai milis dalam dan luarnegeri. Dan sejauh ini, saya belum pernah mengetahui Komunitas Subud meralat politik kebudayaan demikian. Saya berharap benar, jika Komunitas Subud sudah meralat politik budaya terhadap masyarakat Dayak ini, hendaknya ralat tersebut, diumumkan secara luas, walau pun bisa saja terjadi bahwa ralat dilakukan sebagai suatu taktik, tanpa mengobah inti strategi. Saya berharap agar masyarakat Dayak tidak lengah terhadap gerak-gerik Komunitas Subud di Kalteng , yang pernah menyetan-nyetankan budaya Dayak sehingga kelak-kemudian masyarakat Dayak khususnya tidak mati langkah.Harapan begini tentu tidak berangkat dari keinginan menyulut pertikaian dan kebencian pada komunitas ini dan itu, tapi semata-mata berpangkal dari suatu harapan agar masyarakat Dayak tidak mengendorkan kewaspadaan. Juga tidak bermula dari sikap tutup pintu-isme atau kebencian pada orang asing seperti yang pernah dilontarkan kepada saya. Bagaimana bisa, saya membenci orang asing, khususnya kulit putih, jika lebih dari separo usia, saya bergaul dan hidup di kalangan orang berkulit putih di negeri mereka sendiri dan bertentangan pandangan kemanusiaan saya sendiri, terutama konsep “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga”?

Panggilan atau penamaan terhadap kaum kolonialis Belanda disebut “bakara” (kera merah) tidak lain merupakan reaksi masyarakat Dayak terhadap politik budaya ragi usang Belanda, bukan karena mereka Belanda. Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa kolonialisme selalu berganti baju serta menyaru sesuai perkembangan keadaan. Bukan mustahil jika sekarang pun baju itu sekarang sudah berbeda, apalagi jika kita sepakat bahwa yang disebut globalisisasi, tidak lain dari tingkat terbaru dari perkembangan kapitalisme, dan imperialisme adalah wajah dari puncak tertinggi kapitalisme. Menghadapi tingkat baru kapitalisme ini maka muncul yang dinamakan Gerakan Alter Mondial. Guna mencapai tujuannya menguasai dunia, gurita globalisasi menjalarkan sungutnya ke berbagai bidang: ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan lain-lain sector kehidupan serta kegiatan. Beasiswa dan yang disebut bantuan, tentu bukan beasiswa dan bantuan tanpa tujuan sekali pun dibalut ruâ-rupa dalih teoritis. Sejarah Republik Indonesia menunjukkan bahwa terbentuknya Berkeley Mafia yang menghasilkan tim pendamping Orde Baru merupakan buah beasiswa dari Amerika Serikat yang merupakan basis lobby Amerika Serikat di Indonesia. Perlombaan membangun lobby-lobby antar Negara-negara adikuasa dan kapitalis tidak lepas dari usaha merebut Indonesia yang berpenduduk 220 juta sebagai pasar, penyedia sumber bahan mentah kaya dan murah dan tenaga kerja yang murah pula. Apakah saya bersikap menolak bantuan dan beasiswa dari luar? Tidak. Masalahnya terletak pada siapa menggunakan siapa? Kesadaran akan latarbelakang demikian, boleh jadi membantu kita meningkatkan kewaspadaan supaya tidak menjadi negeri dan bangsa koeli di antara koeli.

Zending dari Basel Swiss, yang sekarang bermarkas di Tumbang Lahang, tadinya di Kasongan, diterima oleh masyarakat Dayak. Zending melakukan kegiatan di Kalteng , khususnya Katingan, lebih dari setengah abad, dan sepanjang kegiatan, mereka tidak pernah menyetan-nyetankan budaya Dayak. Sekolah pertukangan Mandumai yang dikelola oleh Zending Basel, menyumbangkan tenaga-tenaga terampil berkualitas di bidang pertukangan bagi Kalteng. Mereka membaur dengan masyarakat lokal. Asih berbahasa Dayak, lebih fasih dari berbahasa Indonesia. Dr. Elisabeth dengan klinik pengobatannya adalah nama yang selalu diingat oleh masyarakat Dayak Katingan. Antropolog dari Swiss jugalah yang sanggup menggadaikan kepalanya untuk bisa bersama-sama komunitas Punan membela hutannya di Sarawak.

***

Kepergian kami ke perkampungan Rungan Sari di Tangkiling, pal 36 Jalan Tjilik Riwut berawal dari pemasukan lamaran sesuai iklan oleh Ann untuk menjadi pengajar di sekolah internasional. Lamaran disampaikan di Jalan Pilau Palangka Raya. Sebagai lanjutan dari lamaran ini, beberapa hari kemudian, Ann ditelpon oleh Bu Endah untuk diwawancara di perkampungan Rongan Sari. Mestinya wawancara dilangsungkan pada pukul 12 :30. Tapi di stasiun taksi atau angkot, kami harus menunggu angkota lebih dari sejam. Sopir tidak mau berangkat sebelum jumlah penumpang memadai. Karena hampir kehilangan kesabaran, saya mencoba mencarter angkot, tapi untuk jarak 30 km, sopir meminta Rp.100 ribu. Saya mencoba melihat ke sana ke mari, kalau-kalau ada taksi lain yang menuju Tangkiling, salah satu daerah keramat bagi orang Dayak Kalteng. Tapi yang ada Cuma satu taksi yang sedang kami tunggu. Sopir mau berangkat lebih cepat jika kami mau membayar tempat duduk empat dua atau tiga penumpang yang sedang diharapkan oleh sopir. Jalan kompromi tercapai. Tarif dinaikkan dari Rp.13 ribu menjadi Rp.15 ribu perorang. Sopir masih saja belum puas dengan kenaikan ongkos dari tarif normal demikian. Sekali pun ia memberangkatkan taksinya, tapi ia masih saja berputar-putar di sekitar dengan harapan mendapatkan penumpang baru dengan tarif baru. Begitu sulit mencari penumpang, begitu minimnya juga taksi yang ke Tangkiling hingga sulit dicari dan harus lama menunggu. Angkutan publik masih merupakan masalah utama bagi penduduk Palangka Raya dan sekitarnya sedangkan jarak satu dan lain tempat cukup melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki di bawah suhu sangat terik. Sebelum memiliki jip Catana, waktu bekerja di sini, pada mulanya saya menempuh jarak-jarak begini dengan menggunakan sepeda dayung. Orang-orang memandang saya dengan aneh bahkan ada yang mengatakan « gila » dan « memalukan bagi seoang penyandang gelar akademi DR” karena tidak ada orang lain yang melakukannya. Sejak itu, pedagang di kaki lima, pejual koran dan pasar Blauran dan Kahayan menjuluki saya sebagai « profesor bersepeda ». Mengapa malu ? Bulankah kemampuan saya sebatas memiliki sepeda dayung ?! Dari kata-kata tersebut saya mengukur ukuran hebat tidak memalukan di kampung saya sekarang. Membantu saya mengenal permukaan mimpi mereka tentang kehebatan yang barangkali dekat dengan konsumerisme.

Naik sepeda ke Tangkiling? Tentu saja mungkin, tapi sangat melelahkan untuk memenuhi rendezvous 2) pukul 12:30. Lagi pula sepeda butut saya dulu itu ketika meninggalkan Palangka Raya sudah saya berikan pada orang.

Tahu kami akan datang terlambat, Ann saya minta mengirimkan sms untuk memberitahu persoalannya.

Taksi kami meluncur melintasi jalan perkampungan tak teratur, bahkan bisa dikatakan setengah kumuh. Halaman-halaman dibiarkan menyemak. Maaf, para handai-taulan, barangkali standar kumuh saya berkelebihan karena “risih” serta memimpikan kota dan kampung di tanah kelahiran, dengan perumahan yang rapi tertata , bersih, walau pun sederhana dan kecil, bukan asal dibangun. Saya percaya, kita bisa dan mampu. Apa salahnya rapi, tertata, indah dan bersih?

Di terminal Tangkiling, taksi berhenti dan hanya mau mengantar kami ke Rongan Sari yang masih jauh, jika kami memberi tambahan ongkos. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan dua ojeg. Dari lagu bahasa mereka kemudian dari bahasa yang mereka gunakan, saya tahu bahwa dua pengendara ojeg itu adalah orang dari etnik Dayak. Menggunakan bahasa Dayak Kahayan, saya mengorek keterangan dan kesan-kesan merka tentang perkampungan Rongan Sari yang di sini terkenal sebagai perkampungan Subud.

“Yang tinggal di Rungan Sari ini adalah orang-orang kaya dan kebanyakan orang berkulit putih”, pengendara ojeg bercerita tanpa saya tanya. Sebagai sesama Dayak, ia nampak cepat ramah dan percaya. Suatu psikhologi yang saya pahami benar dan saya gunakan untuk menimba informasi.

“Untuk masuk ke dalam pun tidak gampang. Kontrolnya ketat”, lanjut pengendera ojeg Dayak itu.

“Apakah kau 3) tinggal di sini?”, tanya saya.

« Saya lahir dan besar di sini. Tangkiling ini kampung saya . Dan kau dari mana ?».

« Saya orang Kasongan, Oloh Katingan »

Begitu melihat dua sepeda motor berhenti di depan kayu palang pintu, seorang satpam dengan seragam putih birunya, menghampiri. Ann turun menemui satpam dan menjelaskan sesuatu dengan gayanya yang pasti, tenang dan penuh percaya diri. Palang kayu jalan masuk terangkat. Nampak satpam pintu depan berbicara, di walkie-talkie. Ojeg melaju masuk. Kami sudah di tengah-tengah perkampungan Subud: Rongan Sari yang terdengar di telinga saya sebagai berbau-bau nama Jawa. Tidak sedikit nama desa, kampung dan tempat di Kalimantan menggunakan nama-nama Jawa. Bahkan istilah pambakal diganti dengan lurah. Orang-orang Dayak pun banyak yang menggunakan nama Jawa seperti Daryatmo, Dino, Kurniawan, dan lain-lain. Dari keterangan-keterangan yang saya kumpulkan sejak lama, saya dapatkan alasan penggunaan nama-nama Jawa ini berasal dari keadaan di zaman Orde Baru, yang mengutamakan etnik Jawa untuk berbagai pekerjaan, di samping pengutamaan agama Islam , terutama pada awal-awal berdirinya ICMI di masa pemerintahan Habibie. Dengan menggunakan nama-nama Jawa, orangtua berharap bahwa anak-anak mereka tidak mengalami kesulitan mencari pekerjaan, semata-mata karena mereka mengenakan nama lokal. Agama, terutama Islam atau Kristen, dan asal etnik, termasuk faktor yang selalu jadi hitungan di dunia politik di Kalteng. Terkadang, entah sadar atau tidak, faktor asal sungai turut bermain. Apakah patokan-patokan begini rasional atau tidak dalam berpolitik, adalah soal lain, tapi yang jelas, sampai sekarang faktor-faktor ini masih nyata berperan di dunia politik Kalteng, dijadikan dasar dalam menggalang aliansi.

Dari punggung sepeda motor yang melaju kencang menyusur lika-liku jalan rapi dan apik, kami mengamati sekeliling dengan cermat tanpa berbicara sepatah kata pun. Rumah-rumah berarsitektur Dayak, serupa betang (long house), beratap sirap , tiang dan dindingnya terbuat dari kayu besi. Halaman-halaman rumah yang terpencar tertata menurut sebuah rencana ditumbuhi rerumputan dan pepohonan yang juga terawat. Di belakang rumah-rumah ini, hutan rimbun memberikan suasana teduh tenang. Di bagian tengah kampung, terdapat lapangan bola basket dan sepakbola. Kepada Ann, saya katakan:

“Nah, Mi, penataan ruangan, halaman rumah-rumah di sini merupakan kontras dari penataan ruang dan halaman berdasarkan estetika peladang berpindah. Ia di atur atas dasar pola estetika negeri-negeri industri. Untuk mengimbangi kegersangan kawasan industri dengan bangunan-bangunan kaku, guruh mesin dan debu, orang-orang memerlukan suasana santai, indah dan bisa memberikan kenyamanan ».

« Iyo ji, ” jawab Ann dengan lidah Makassar-nya yang khas.

« Sampah-sampah dibuang pada tempatnya dan tak ada yang berhamburan di mana-mana. Mengapa kita tak bisa berbuat begini dan membangun perkampungan seperti ini?”

Sambil menunggu panggilan pewawancara, Ann dan saya duduk di kursi yang terletak di sudut, dekat pintu masuk, memperhatikan kegiatan anak-anak sekolah (barangkali setingkat SD, SMP dan SMU) yang mengikuti pelajaran di Sekolah Internasional Plus pertama di Kalteng – kalau menggunakan istilah yang digunakan diperkembangan Subud ini. Dua buah bus besar, belikatnya bertuliskan kalimat serupa, turut menunjukkan kelengkapan sekolah. Kemudian seorang lelaki langsing, jangkung, muda, berkulit putih, memanggil Ann masuk. Ia memperkenalkan diri sebagai Karim. Ann diwawancarai dalam bahasa Inggris oleh tiga orang yaitu Karim, seorang kulit putih lain dan kepala sekolah yang orang setempat. Tapi yang paling banyak bertanya adalah Karim. Karim menanyakan tempat tinggal dan asal Ann, filsafat mengajar Ann secara pribadi, kehidupan pribadinya.

“Apakah Anda mengetahui siapa mendanai sekolah ini?”, tanya Karim. Ann pura-pura tidak tahu dan menjawab :

« Tidak ».

« Sekolah ini diselenggarakan dengan dana dari luar negeri”  jelas Karim, dijawab dengan Ann dengan mengangguk-angguk.

Sambil menunggu Ann selesai diwawancarai, saya memperhatikan gerak-gerik serta perangai anak-anak Indonesia dan kulit putih yang ada di sekitar saya. Terdengar mereka berbicara dengan sesama menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mereka nampak girang dan bebas. Banyak anak-anak ini yang mempunyai telepon genggam. Yang mengasuh mereka terdiri dari orang kulit putih dan orang Indonesia. Barang tentu anak-anak yang dididik di sini bukanlah dengan beaya gratis. Hanya saya tidak tahu berapa beaya kongkret yang harus dibayar oleh orangtua.Melihat perlengkapan sekolah yang ada, saya menduga mereka tidak kekurangan sehingga beaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit. Hampir bisa dipastikan dari adanya telepon genggam di tangan banyak anak-anak, akan mustahil jika orangtua mereka tergolong orang-orang tak berpunya.

Saya membayangkan bagaimana kelak anak-anak dengan segala kemudahan ini berkembang dan menjadi. Terbayang mereka menjadi satu lapisan elite dari elite yang jauh dari masyarakatnya, hidup di dunia mereka sendiri. Benak saya juga diusik pertanyaan: Wacana apa dan bagaimana gerangan yang digunakan sebagai arahan pembimbingan mereka? Mau diapakan dan di kemanakan anak-anak ini? Pertanyaan-pertanyaan yang tinggal pertanyaan tak bisa terjawab hingga detik ini. Padahal ketika melihat anak-anak, saya selalu membayangkan wajah esok bangsa dan tanahair. Apakah pemda tidak menaruh perhatian pada wacana pembimbing pendidikan anak-anak di perkampungan ini dan membiarkan segalanya mengalir? Baik buruk hasil akhirnya tidak diindahkan? Jika demikian maka apakah namanya sikap demikian jika bukan ekorisme? Ekorisme, saya kira, bukanlah cara memimpin dan mengelola masyarakat yang kena. Ekorisme bisa membawa kita ke jurusan dengan keadaan tak terduga.

Bosan mengamati anak-anak yang mulai kegiatan dengan menyanyikan lagu Indonesia diiringi oleh petikan gitar seorang ABG kulit putih, saya keluar berbincang-bincang dengan bagian keamanan asal Semarang, dilengkapi dengan sebuah walkie-talkie. Tidak banyak keterangan yang bisa saya timba dari orang Semarang, walau pun saya tanya dengan berbagai cara sederhana.

“Saya hanya seorang pekerja biasa yang mencari hidup”, tuturnya. “Saya tidak tahu apa-apa tentang sekolah internasional ini dan juga tidak tahu apa-apa tentang Subud. Saya hanya bertugas menjaga keamanan sekolah », tambahnya dingin.

Ann akhirnya keluar dari ruang wawancara. Kami mengayunkan langkah santai menyusur lika-liku jalan-jalan perkampungan, mencoba mengamati cermat keadaan. Sepi. Seperti tak berpenghuni. Dari gedung-gedung berarsitektur Dayak lengkap dengan garasi mobil , tak terdengar suara apa pun.Ketenangan dan keheningan yang seperti menyimpan rahasia dari suatu rencana panjang dan jauh.

“Mi merasa seperti sedang tidak berada di Kalteng di perkampungan Subud ini”, ujar Ann dengan suara rendah.

“Pi khawatir perkampungan ini kelak akan berkembang seperti yang terjadi di Free Port Papua Barat”, balasku.

Akhirnya Ann dan saya sampai ke jalan raya mencari taksi datang dari arah Sampit menuju Palangka Raya. Setelah duduk di kursi taksi yang melaju ke jurusan Palangka Raya dalam perjalanan kembali ke Edelweis, Ann berkata:

“Kita kembali ke Kalteng lagi, Pi. Kembali ke kenyataan hidup“.

“Kenyataan adalah rumah kita, Mi”, jawabku sambil menggenggam jemarinya. Beberapa helai rambut jatuh ke dahi istriku dimainkan angin yang masuk dari jendela taksi sengaja dibuka sebagai AC alam. Ann memberiku senyum khas yang kusukai.

“Kita ke mana sekarang, Pi” , tanyanya menduga saya ingin mampir ke sana ke mari dulu sebelum ke wisma.

“Ke Edelwies , Mi. Kita ke puncak memetik Edelweis”.

“Ya, edelweis hanya ada di puncak”.

“Ya, kita ke puncak memetik edelweiss”, Ann mengulang kalimatku dengan mata bersinar.

Palangka Raya, April 2009

——————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Rongan, nama sebuah sungai kecil di sekitar Tangkiling.

2). Rendezvous, bahasa Perancis, berarti « janji bertemu”.

3). Kau, ikau dalam bahasa Dayak Katingan. Kata ganti “ikau”, dalam masyarakat Dayak Katingan, bisa digunakan terhadap orang yang tidak dikenal atau orang yang lebih tua, seperti paman, ayah, ibu. Dan masih dianggap sopan.

About these ads

3 comments so far

  1. ajib wicaksono on

    salam penuh cinta dan kasih untukmu saudaraku …
    saya orang jawa, muslim dan baru satu tahun masuk subud.
    Sebuah organisasi Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan.

    Saya sedih, sepertinya saudaraku merasa agak tidak nyaman dengan keberadaan subud disana. Tentu hal ini bukan karena subud, tapi karena pribadi orang2nya saja yg latar belakang budayanya beda sama kita (orang indonesia).

    Semoga saudaraku bersabar dan saya mohon maaf yg sesungguh-sungguhnya.

  2. dayakalteng on

    Let’s make the dreams come true….. aku punya tanah seluas rungan sari di tangkiling … mau kita apakan…?

  3. Andi Panggeleng on

    Saudaraku terkasih ….
    Perkenalkan saya dari Makassar, tinggal di Bekasi, saya belum pernah ke Palangkaraya… membaca bahasan anda yang sangat mengindahkan rasa saya (menurut saya indah dalam tata cara penyampaiannya)….
    Sebagai anggota Subud (Sekitar 5 Tahun yang lalu) saya merasa sedih dengan perasaan anda terhadap Suasana di di Rongan Sari, dan juga “Katanya”, “menyetan-nyetankan budaya Dayak” mohon maaf atas ketidaknyamanan tersebut, sebagai orang Subud saya tidak pernah membaca document tersebut… mudah-mudahan bisa di telusuri lebih dalam dan di cermati apa yang tersampaikan di dalamnya, tapi pada prinsipnya… kami tidak exclusive apalagi menghakimi orang di luar kelompok kami.

    Salam persaudaraan dari saya… dan juga salam untuk istri Anda Ann…
    Doa saya kebahagiaan yang abadi untuk anda berdua.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: