KETIKA SEORANG MADURA MENJADI WALIKOTA DI TANAH DAYAK

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


Dalam pemilihan walikota dan wakilnya untuk tahun 2008-2013, Paryadi S.Hut (30 tahun), telah terpilih menjadi wakil Walikota Kota (Wako) Pontianak mendampingi Sutarmiji . Mereka diusung oleh PPP dan mendapat hanya 15 persen, tapi Paryadi tetap terpilih menjadi Wako mengalahkan calon-calon dari PDIP dan Golkar, karena menurut Majalah Kalimantan Review (KR), sebuah majalah yang telah berusia 18 tahun, diterbitkan oleh Institut Dayakologi Pontianak dengan oplag hamper 20.000 eksemplar saban terbit, suara yang ia peroleh “merupakan murni pilihan dari masyarakat” (KR. No. 163/Th.XVIII/Maret 2009). Kecuali itu, nasih menurut Majalah KR, terpilihnya Paryadi dan Sutarmiji dikarenakan program mereka yang mendapat dukungan dan gampang dihayati oleh masyarakat. “Isu-isu yang diangkat dalam masa kampanye bisa dimplementasikan. Yang terkenal adalah program perbaikan rumah kumuh. Dalam lima tahun ini ditargetkan ada 1.000 rumah kumuh yang diperbaiki Pemkot Pontianak” dan “Saat ini sudah dimulai dengan perbaikan 100 buah rumah”. Program lain dari pasangan pimpinan kota Pontianak ini berupa “perbaikan jalan, gertak,kawasan kumuh, penyediaan air bersih, dan pendidikan menjadi fokus pembangunan lima tahun. Mendirikan pusat-pusat kursus, dan gratis bagi warga kurang mampu. Seperti kursus perbengkelan; keterampilan perempuan dan bahasa Inggris dan Mandarin, dan sebagainya”.

Titik program lain yang sangat menarik dari pasangan pimpinan kota Pontianak ini, bagi saya adalah program mereka menjadikan “Kota Pontianak sebagai barometer kedamaian”, sebagai “harga mutlak”. “Target saya dalam lima tahun ini tidak ada kerusuhan atau konflik di Kota Pontianak. Semua budaya diakui keberadannya di kota ini. Tidak ada lagi pemisahan terhadap kebudayaan, etnis”, papar Paryadi, wako termuda di Indonesia ini.

Seperti diketahui konflik etnik berdarah, terutama antara etnik Madura dengan Dayak dan etnik-etnik lainnya berulangkali terjadi di Kalimantan Barat, termasuk di Kota Pontianak. Bahkan sebuah tugu perdamaian antar etnis sampai sekarang masih tegak berdiri di Kalbar yang menjadi salah satu saksi dari sengitnya konflik etnik di propinsi ini. Sayangnya tugu perdamaian, seperti halnya sumpah potong rotan dan sumpah garam berabu di Katingan, berkali-kali tidak diindahkan oleh pihak tertentu, seakan-akan darah yang tumpah dan sekian ribu nyawa yang melayang tidak mempunyai arti dan demikian murah harganya. Sedangkan bagi orang Dayak, darah itu sakral walau pun tidak serta-merta darah dibalas darah. Tapi sebagaimana halnya laut punya pantai, kesabaran pun ada batasnya. Jika tidak ingin bahwa konflik berdarah antar etnik yang tidak menguntungkan etnik mana pun, bartangkali pesan Bung Karno agar kita “sekali-kali jangan melupakan sejarah” masih relevan.

Terpilihnya seorang Madura menjadi anggota DPR di Tanah Dayak, dan sekarang di Kota Pontianak terpilih menjadi wako, bukanlah hal baru. Kenyataan ini kiranya sesuai dengan budaya betang dan menunjukkan sikap terbuka manusia Dayak terhadap para pendatang baru sesudah kehadiran Dayak di Tanah Dayak. Tapi sikap terbuka ini tidak sama dengan membiarkan adat-istiadat Dayak diinjak-injak secara berulang-ulang dengan patokan budaya “lebih baik berkalang tanah dari pada berputih mata” jika menginginkan sesuatu sehingga tidak enggan melakukan tindakan apa pun, sampai pada tindak kriminal. Pandangan dan sikap begini sejajar dengan pandangan “pembenaran segala cara untuk mencapai tujuan”. Sikap “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung “ barangkali warisan nilai tetua kita yang masih tanggap zaman. Pengkuan budaya etnik pendatang hanya bisa dilakukan jika mengandung unsur saling menghormati dan sesuai adat sehingga tidak menimbulkan keresahan sosial serta ketegangan hubungan antar etnis. Seperti dikatakan di dunia Barat, “kemerdekaan saya berakhir saat menyentuh kemerdekaan orang lain”. Apa yang dikatakan oleh Priyadi selaku wako di atas, tentang pengakuan budaya etnik lain, hanya berlaku jika ia tidak mengganggu kerukunan hubungan antar etnis , terutama oleh pendatang baru. Saya khawatir jika Priyadi tidak awas, maka ucapan ini justru bisa jadi “belati makan tuan”. Bermaksud mencegah terulangnya konflik etnik tapi justru bisa dijadikan dalih budaya guna tersulutnya konflik etnik baru. Pernyataan Priyadi selaku wako Pontianak di atas bisa berwayuh arti. Siapa gerangan yang tak menghormati budaya orang lain? Apakah orang Dayak dengan budaya betang dan hukum adatnya pernah tidak menghormati budaya etnik lain yang menghormati adat Dayak? Pernyataan Priyadi diatas kiranya perlu rincian agar tidak menjadi suatu dalih budaya ”tujuan membenarkan cara” dan lebih-lebih tidak ditudingkan kepada etnik tertentu. Budaya etnik mana pun perlu direvitalisasi agar tanggap zaman karena ada segi-segi yang sudah kadaluwarsa dilihat dari segi kehidupan bernegeri, berbangsa dan bernegeri. Kebhinekaan yang kita inginkan, saya kira adalah kebhinekaan yang sesuai nilai republiken dan berkeindonesiaan.

Sebelum meletusnya Tragedi Sampit Tahun 2000, saya bersama-sama teman-teman dari semua etnik di Kalteng, termasuk dari etnik Madura dan anggota-anggota DPRD asal etnik Madura, pernah membangun sebuah LSM yang bertujuan menanam saling hormat dan pemahaman budaya berbagai etnik yang ada di Kalteng, sekaligus membentuk jaringan yang membunyikan lonceng peringatan jika muncul gejala-gejala yang bisa menyulut kerusahan antar etnik. Sayangnya, LSM ini kalah cepat dengan perkembangan di lapangan. Tragedi Sampit 2000 meletus tak bisa dikendalikan lagi. Barangkali selaku wako, Priyadi S. Hut, ada baiknya mempertimbangkan pengalaman LSM Lintas Budaya di Kalteng daripada mengeluarkan kata-kata yang kurang tersaring. Mencegah tersulut ulang konflik antar etnik niscayanya bukan sebatas program tapi ada tindak kongkret lebih lanjut.

Catatan begini saya tuliskan karena baru-baru ini, ketika berada di Kabupaten Katingan, saya mendengar cerita tentang hampir terjadinya kembali konflik Madura-Dayak mengenai sebuah sumber tambang. Seperti diketahui, sejak beberapa tahun setelah Tragedi Sampit 2000, orang-orang Madura kembali dating ke Kalteng dalam jumlah semakin banyak. Konflik bisa dicegah karena 15 orang Madura itu segera dilarikan oleh aparat keamanan kabupaten. Sementara tetua di hulu dan kampung-kampung memperingati anak-anak muda Dayak bahwa konflik sejenis dengan Tragedi Sampit 2000 bisa saja terulang. Peringatan dan ramalan ini, barangkali layak menjadi perhatian para penyelenggara Negara berbagai tingkat, daripada ketinggalan kereta peristiwa. Tapi kejadian di atas, juga konflik-konflik etnik berdarah lainnya, hendaknya tidak menjadikan kita terjerat oleh pandangan generalisasi atau pukul rata dalam memandang dan menilai etnik ini dan itu. Sebab generalisasi, sering merupakan suatu praduga, yang menjauhkan kita dari kebenaran serta berbahaya bagi kebersamaan. Dalam menyelesaikan Tragedi Sampit 2000, saya dan Tim Tiga Orang yang semuanya orang-orang Madura dikirim oleh Gus Dur selaku Presiden RI, bekerja erat bahu-membahu. Ketika pertama kali pulang ke tanahair setelah sekian puluh tahun terpental ke kembara di mancanegara, yang selalu menemani saya selama berada di Jawa di masa kekuasaan Orba Soehrto, adalah kawan baik dan setia saya asal Madura juga. Asal etnik bukanlah ukuran kebenaran dan baik-buruk.

Terpilihnya Priyadi S.Hut dari etnik Madura sebagai wako Pontianak, sebagaimana dulu sebelum Tragedi Sampit 2000, beberapa anggota DPRD berasal dari etnik Madura, kiranya bisa menjawab tuduhan pihak tertentu yang mengatakan orang Dayak itu rasis. Sementara Wayudi, bupati Kotawaringin Timur sekarang pun, sebenarnya di nadi-nadinya mengalir darah Madura. Ketika menjadi pejabat Republik, entah jabatan apa pun yang mereka duduki, seniscayanya tidak mewakili etnik apa dan mana pun, tapi menjadi pejabatan Republik dan Indonesia yang mengelola dan bertanggungjawab pada semua warganegara.

Politik etnis yang tepat, di samping sikap budaya yang republiken dan berkeindonesiaan, kiranya diperlukan oleh bangsa dan Republik ini, karena di daerah mana pun komposisi demografi suatu daerah, tidak pernah ada yang homogen. Selalu heterogen. Pemurnian etnik, kiranya suatu politik etnik yang berbahaya sebagaimana yang ditunjukan di negeri-negeri bekas Yugoslavia.

Bersama Majalah KR, saya pun ikut menyatakan: “menantikan perwujudan rencana-rencana kerja Anda bersaa Pak Sutarmiji”, penantian kepada petinggi daerah dan negeri yang menjanjikan sikap untuk menjadikan “rakyat sebagai poros” dalam masa jabatan dan kegiatan.***

Palangka Raya, April 2009.

———————————

JJ. Kusni

About these ads

53 comments so far

  1. fitra rahmadani on

    saya tidak setuju dengan pernyataan JJ kusni.Emang Pak Paryadi itu orang madura.tapi dia baik.
    Sekarang aja jalan di kota Pontianak bamyak yang mulus .jangan sanpai tragedi sampit itu terulang.Jadi jangan sampai terjadi perpecahan di kota Pontianak bisa-bisa kota Palang karaya itu di serang oleh rakyat kota Pontianak.
    ngomong itu harus hati-hati

  2. fitra rahmadani on

    saya tidak setuju dengan pernyataan JJ kusni.Emang Pak Paryadi itu orang madura.tapi dia baik.
    Sekarang aja jalan di kota Pontianak banyak yang mulus .jangan sanpai tragedi sampit itu terulang.Jadi jangan sampai terjadi perpecahan di kota Pontianak bisa-bisa kota Palang karaya itu di serang oleh rakyat kota Pontianak.
    ngomong itu harus hati-hati.jangan menghina orang sembarangan.
    Ucapkanlah perkataan yung baik jangan hanya lihat sisi negatifnya tapi, lihat juga sisi positifnya.

  3. sangkusni on

    Fitra Yang Terhormat,

    Tolong lebih spesifik tentang dibagian mana saya harus bicara lebih hati-hati. Pertanyaan saya: apakah dalam tulisan ini ada generalisasi bahwa semua madura jahat? kedua: apakah ketidakcermatan berbahasa seseorang yang saya kritisi berhubungan dengan kebaikan hati?

    Saya menunggu penjelasan yang detail dan runtut tanpa emosi dan saya kembalikan pernyataan anda agar bicara harus lebih hati-hati. Misal; apa anda cukup hati-hati dengan mengatakan bahwa “bisa-bisa kota Palangka Raya diserang oleh rakyat kota Pontianak”. Apa dasarnya? Cukup cermatkah pernyataan ini? cukup hati-hatikah? atau sebaliknya?

    Tidak setuju itu hak. Tapi hak tidak sama dengan kebenaran, apalagi gertak sambal.

    Salam

  4. fitra rahmadani on

    saya tidak setuju dengan pernyataan JJ kusni.Emang Pak Paryadi itu orang madura.tapi dia baik.
    Sekarang aja jalan di kota Pontianak banyak yang mulus .jangan sanpai tragedi sampit itu terulang.Jadi jangan sampai terjadi perpecahan di kota Pontianak bisa-bisa kota Palang karaya itu di serang oleh rakyat kota Pontianak.
    ngomong itu harus hati-hati.jangan menghina orang sembarangan.
    Ucapkanlah perkataan yung baik jangan hanya lihat sisi negatifnya tapi, lihat juga sisi positifnya.itulah ciri-ciri orang yang kurang bijak dalam perkataan.

  5. sangkusni on

    Fitra Yang Terhormat,

    Dimana saya menghina orang? Tolong tunjukkan. Apakah kritisi=menghina? Terima kasih.

    Salam

  6. fitra rahmadani on

    Saya hanya menyampaikan kalau menulis di internet itu harus hati-hati. biarlah kota pontianak ini dipimpin oleh orang madura.Itu saja yang saya pesan lewat komentar tadi

  7. fitra rahmadani on

    Sudah jelas?

  8. fitra rahmadani on

    Sebelumnya saya minta maaf

  9. fitra rahmadani on

    Ya itulah manusia ada yang mengaku kesalahannya adajuga yang tidak

  10. Ann & JJ on

    Fitra Yang Terhormat,

    Apakah dari tulisan saya, ada larangan orang Madura untuk memimpin Pontianak? saya kira, cara anda menanggapi tulisan saya sangat sektaris dan dalam pandangan saya dari kalimat anda yang berbunyi “bisa-bisa kota Palangka Raya itu di serang oleh rakyat kota Pontianak”, tampak bagi saya bahwa dasar berpikir anda dalam merespon sesuatu hal adalah sebuah landasan pikir berdasar kekerasan fisik.

    Apakah banyaknya jalan mulus di suatu wilayah administratif negara /kota berkaitan dengan kebaikan hati pimpinan administratif negara/ kota?

    Apakah standar kebenaran dan kesalahan dalam sebuah diskusi akademik? Dan apakah diskusi akademik itu menurut anda?

    Bagaimana pemahaman anda mengenai “menulis hati-hati di internet”? Dimana batasannya jika batasan hati-hati itu ada? Dan menurut siapa batasan itu?

    Jika ingin diskusi ini berlanjut, tolong jawab dulu pertanyaan-pertanyaan saya dan beri saya data agar kita tak bicara atas dasar asumsi. Asumsi dan/atau ilmu kuping, apalagi disampaikan secara emosional, tidak membantu saya memahami hal dan atau orang lain.

    Saya tak menganggap anda bersalah maka tak perlu minta maaf. Yang saya lakukan adalah mempertanyakan kembali poin-poin yang anda ajukan melalui kalimat-kalimat anda.

    Tabe’

  11. fitra rahmadani on

    ya saya minta maaf

  12. fitra rahmadani on

    Ini bapak sangkasni jjkusni?

  13. JJ on

    Fitra Yang Terhormat,

    Ya. Saya menagih jawaban-jawaban saudari atas pertanyaan saya. Saya tunggu. Bisa meregistrasi pertanyaan-pertanyaan saya kan?

    Tabe’

  14. sangumang kusni on

    Hai Fitra yth,
    Kok diam saja? Sedang menyiapkan serangan rakyat Pontianak atas kota Palangka Raya nih, ye? Sudah konsultasi dengan Pangdam Tanjumgpura tentang berapa tank dan panser yang akan digunakan untuk menyerang? Maaf dan salah itu lain lho.
    Tabe

  15. tito on

    MAAF YA.tadi ngomongnya untuk kepentingan bangsa tapi ini kok malah mau perang lagi nampaknya,jangan lupa awalnya anda ini adalah untuk memperjelas suatu peristiwa lo, bukan untk membuat perang lagi walaupun lewat dunia maya…..

  16. fitra .rahmadani on

    disini saaya menemukan tulisan “sudah konsultasi dengan pangdam tanjung pura tentang berapa tank dan panser yang akan digunakan untuk menyerang?”apakah itu perkataan yang bijak?

  17. sangkusni on

    Fitra Yth,

    Katanya mau menyerang Palangka Raya dengan mengatasnamai rakyat Pontianak. Apa lupa dengan perkataan sendiri? Saya hanya melanjutkan alur pikir anda, lho.

    Tolong registrasi pertanyaan-pertanyaan saya dan jawab satu per satu. Masih bisa membuat registrasi kan?

    Oya, soal permintaan maaf anda, kepada siapa anda minta maaf dan terhadap soal apa?

    Tabe’

  18. fitra rahmadani on

    saya sudah bosan

  19. Andriani S. Kusni & JJ. kusni on

    Fitra Yth,

    Bosan bukan alasan yang masuk akal untuk suatu diskusi yang anda mulai.

    Kita tutup saja threat ‘obrolan’ ini hingga anda meregistrasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami atas alur pikir anda.

    Tabe’ dari Palangka Raya

  20. sangomang on

    untuk fitra rahmadani saya liat koment qm hanya ingin mengadu domba sesama Dayak di tanah Borneo.! asal qm tau Dayak itu persatuannya kuat tidak mudah di adu domba. atau jgn2 yg jadi biang kerok peristiwa kerusuhan dulu adalah qm..

  21. Lazuardi on

    Maaf jika saya ikut nimbrung,
    Pada artikel di atas saya lihat Pak Kusni mencoba mengingatkan agar Tragedi Sampit jangan sampai terulang lagi. Terpilihnya orang Madura sebagai Pejabat di Kalimantan boleh-boleh saja, karena negara kita adalah negara demokrasi. Tapi yang penting kita harus memahami dan menghormati adat istiadat setempat agar tidak terjadi benturan-benturan. Seperti pepatah “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Kita semestinya belajar dari Tragedi Sampit merupakan sebuah kegagalan pemahaman dan penghormatan terhadap adat budaya orang Dayak.
    Sdr. Fitra harus lebih arif membaca dan menganalisa tulisan Pak Kusni.
    Terima kasih

  22. YANDY on

    pa kusni memang benar fitra saya setuju pendapat beliau dan saya juga setuju pendapat lazuardi Seperti pepatah “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Seperti pepatah “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. hehhehehehehehhe makanya analisa dongk tulisan orang di cerna jagan men celonong aza yakan bang eh bang bisa nga tulisan abang di ambil atau di publikasikan di media oleh orang lain mohon ijin gtoo pak kusni

  23. YANDY on

    maksudnya tulisan pak kusni kan banyak pak bukan cuma yang ini saya liat tapi yang laen gto pak kusni

  24. kusni sulang on

    Silahkan saja Bung Yandy.
    Tabe

  25. Dwi Wahyudi on

    Hhhmmm… Sepertinya ada kesalahpahaman yang cukup panjang yach. Memang biasanya kalau berkomunikasi melalui media maya seperti ini kecenderungan untuk terjadi miss communication cukup besar. Kita hanya cukup berpegang filosofi yang dikatakan oleh Mas Lazuardi yaitu Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung. Selama apa yang kita lakukan baik untuk bumi yang kita pijak, saya kira itu tidak akan menjadi masalah. Biarlah apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Ambil hikmah dan pelajaran dibaliknya sehingga kejadian yang sama tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang. Btw, buat semuanya salam persahabatan dari Blogger Borneo. Thanks…

  26. vivieck on

    senang bisa mampir…walaupun satu tahun kemudian,
    sepertinya ada kesalah pahaman disini, saya cuma mau berpesan bahwa Pluraisme itu indah…
    salam kenal…

  27. andrianis. kusni on

    salam kenaljuga. terimakasih sudqh bertandang

    andriani s. kusni

  28. andrianis. kusni on

    salam kenaljuga. terimakasih sudah bertandang

    andriani s. kusni

  29. Jangkang Putra on

    Senang mampir di bloger borneo,
    Mengenai tanggapan fitra Rahmadani tentang tulisan bpk jj kusni, sangat emosional dan tidak membaca dengan teliti jangan2 minim pengetahuan bahasa; belajarlah bahasa dengan lebih banyak lagi, ” Wajarlah pak Paryadi S. Hut terpilih”
    1. Selain programnya bagus
    2. Jumlah Masyarakat Madura di Pontianak memang lebih banyak apalagi di daerah Kubu Raya paska Kerusuhan 1997-1988
    3. Kwantitas sangat diperlukan dalam pemilihan Gurbernur, wako, konsekwensi undang-undang untuk memilih secara langsung, Siapa yang jumlah warganya lebih banyak itulah yang menang, lain halnya dengan zaman orba semua pemimpin di impor dar jawa, yang penting kekuasaan soeharto dan kroni22nya aman termasuklah Perusahaan (bisnis) ABRI seluruh Indonesia masa itu (negara dalam negara).

  30. Qomaruzzaman on

    indonesia negara yg pluralis, bukan negara etnis dimana ada fragmen2 tertentu yd diprioritaskan,

    sbgi NKRI yg demokratis n multi etnis, mka toleransilah yg seyogyanya di kedepankan,

    terkait perebutan kekuasaan di kalimantan barat. sya selaku putra daerah asli melihat org klimantan barat, khususnya pontianak kubu raya, mereka msyarakat cerdas yg tidak mudah di propokasi.

    mreka cerdas dan mreka tahu siapa pemimpin yg kompeten utk memimpin kota pontianak.

    pontianak tdk hnya Dayak-Madura, tp berbagai etnis juga ada; melayu, cina, jawa, bugis dsb. mreka bisa akur,

    bukti nyata bbrp tahun belakangan pontianak cukup kondusif n bersahabat utk semua etnis. bahkan bbrp hari lalu sy baru dri pontianak, nampaj jelas nuansa kdamaian, kemajuan infrastruktur dsb.

    jdi dalam diskusi ini sya hrap kdepankan etika berdiskusi, toleransi sbg warga NKRI, dan jgn saling mempropokasi

  31. Khairul Abror on

    keragaman merupakan suatu kepastian.
    -di atas langit masih ada langit-
    sekedar mengingatkan kembali bahwa kalbar merupakan bagian dari bumi indonesia tercinta…
    kita telah sepakat untuk menjadi satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa
    yakni Indonesia !
    tetaplah berpegang teguh pada kesepakatan itu.
    mari kita sikapi perbedaan sebagai potensi dan kekuatan yg beranekaragam dg adat dan budaya dalam membangun kalbar tercinta !

  32. Ubay KPI on

    @Jangkang. MADURA DI PONTIANAK TAK LEBIH 30 Persen pak. Kalau di Kubu Raya memang lebih 50 persen

  33. Ubay KPI on

    Secara pribadi yang lemah ini. saya kurang sependapat dengan judul tulisan saja. Kenapa hrus di tanah Dayak. Sedangkan Paryadi adalah Wakil Walikota, (KOTA) bukan Provinsi.
    Fakta yang ada, di Kota Pontianak sangat minim “Dayak”. Yang banyak malah Tionghoa

  34. tang er hu on

    KENAPA SAUDARI FITRA MENGUCAPKAN JIKA NGOMONG HARUS HATI HATI? ITU KARENA APA YANG MENJADI TOPIK ARTIKEL ANDA ADALAH HAL YANG SANGAT SENSITIF! YANG JIKA TIDAK DICERNA DENGAN BIJAK DAPAT MENGINGATKAN MEMORI KELAM MASA LALU

    SELAIN ITU WAKO YG ANDA SEBUTKAN, ENTAH DIA DARI ETNIS MADURA ATAU APAPUN SANGAT BENAR DENGAN MENGATAKAN PENGAKUAN SECARA BERDAULAT TERHADAP SEMUA UNSUR BUDAYA YANG ADA, LALU MENGAPA ANDA MENGATAKAN PERLU PENJELESAN KHUSUS ATAU GENERALISASI DARI KALIMAT TERSEBUT?? APANYA YANG SALAH??? JUSTRU KALIMAT ANDALAH YANG SEPERTINYA TIDAK TERIMA DENGAN REALITA, DENGAN EMBEL EMBEL TAKUT AKAN MENYEBABKAN KONFLIK ETNIS TERULANG KEMBALI. APA HUBUNGANNYA DENGAN KALIMAT WAKO TERSEBUT??? APAKAH WAKO DIATAS MENYEBUTKAN NAMA SALAH SATU ETNIS?? TIDAK!!
    HEY BUNG SAYA ORANG JAWA JUGA KETURUNAN MADURA. TIDAK ADA YG NAMANYA MEMBANTAI WANITA DAN ANAK KECIL SECARA KEJI

  35. sangkusni on

    Kami mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang memiliki budaya berkomentar yang baik dan bersedia menghargai pembaca lain dengan menggunakan bahasa yang baik dalam berekspresi. Sebagai pemilik “rumah” yang berkewajiban menjaga agar “rumah” ini tetap sehat namun terbuka bagi segala pemikiran, maka kalimat-kalimat yang menghina akan dihapus karena tidak bermanfaat baik bagi yang mengucapkan maupun bagi pembaca lain.

    Silahkan berbagi ide, pengetahuan, dan berdiskusi bersama kami.

    Salam dari Jantung Tanah Dayak,
    Andriani S. Kusni

  36. budi on

    Jalan tuh sutarmidji yg kerja sorang, paryadi tu makan gaji buta, namanya madura tak maok diator, maoknya ngator hak orang. . Tanah tohan, lama2 jdi tanah dy. . Sepatutnya yg mimpin pontianak adlh putra daerah sendiri bkn pendatang, .

  37. budi on

    Minim dayak apa?? Asli pontianak tuh, melayu, dayak, dan tionghoa. . Klo minim coba kau liat klo perang trjadi, masa paling ramai adalah dayak pontianak. . Sebelum dayak seluruh kalbar turun. . Melayu dan tionghoa adalah saudara dayak, apalagi banjar. . Dan dayak pontianak lah yg melindungi org melayu dan tionghoa dri penjajah2 dri tanah seberang. .

  38. budi on

    Untuk org madura coba kalian rasakan, kalo org dayak, melayu, dan tionghoa beramai2 menduduki pulau madura, dan salah seorang dari kami memimpin pulau kalian, apa ada rasa kejanggalan ϑî hati kalian. . Jgn munafik bahwa kita cinta tanah warisan leluhur. .

  39. budi on

    Bagi melayu, dayak, tionghoa jgn mw dijajah oleh masyarakat pendatang, bila ada byk pemimpin dri suku asli yg bs mimpin ponti, knp hrs jauh2 nyari pendatang yg “gertak satu” jak dy tak tau. . Paryadi tuh tak tau gertak satu dmn, camane nak mimpin. . Dy pun rang bendere’ tak iye. . Dan dy berdamping sutarmidji keliatan pasif, tak ada inovasi atau terobosan, mgkn dy tak niat jdi wakil, niatnye jdi wako

  40. budi on

    Sutarmidji berjuang sendiri selama ini, tampak semena-mena thd rakyat, tpi niatnya mulia, demi rakyat, infrastrukur jalan, fasilitas, sekolah gratis, kartu sehat, kartu perlindungan sosial, sampai e-ktp tuh sutarmidji yg punye hal. . Paryadi, mane?? Ape yg dy kerjekan tu?? Dy sibuk himpun massa, dan cm tau pontianak timur saja. .

  41. Hekam on

    Bede apah mak rammi ??? Mon tadek lako tedung bei.. Santai bro, kalian saja lah jadi pemimpin, klo mampu jadi presiden saja biar jadi nomor 1.. Lanjut

  42. Alam on

    Menurut saya judul yang tepat “KETIKA SEORANG MADURA MENJADI WALIKOTA DI TANAH PONTIANAK”, karena menurut sejarahnya Pontianak merupakan tanah adat budaya Melayu. Secara administratif Tanah Dayak adalah Afdeeling Dajaklandeen (1/3 Kalteng sekarang). Kalimantan jika dipetakan akan terdiri atas dua golongan budaya yaitu kampung adat budaya Dayak dan kampung adat budaya Melayu (termasuk Banjar-Kutai). Di Kalimantan Selatan, mayoritas kampung adat budaya Banjar (melayu), hanya sebagian kecil kampung adat budaya Dayak, bahkan ada kampung adat Dayak berupa daerah kantong (enclave) yang dikelilingi perkampungan Banjar Muslim seperti Dayak Warukin dan Dayak Labuhan. Upacara kematian adat Dayak Kalsel yang disebut aruh biasanya hanya dilaksanakan di perkampungan Dayak yang di dalamnya ada ajang permainan judi yang memang dihalalkan dalam agama Dayak Kaharingan. Dalam aruh yang menampilkan judi tersebut biasanya lebih banyak pengunjungnya suku Banjar. Kota Banjarmasin = budaya melayu, Palangka Raya = budaya Dayak, Samarinda-Balikpapan = budaya Kutai-Banjar. Jadi tidak semua bahagian Kalimantan disebut Tanah Dayak (hanya yang menganut adat Dayak saja). Di tanah adat budaya Dayak biasanya FPI ditolak keras.

  43. abu ahmad on

    gini aja dah amun perang lagi kek apa kalau kalimantan dijadikan seperti iraq aja yg ngerasa beragama islam mendirikan negara islam dan memerangi babi2 kristen jd larinya gak kesuku lagi tp ke sentimen agama apa babi2 kristen siap

  44. yopie on

    Pesan saya kepada warga madura khusus nya yang tinggal dan hidup di Pulau Borneo.agar lebih menjaga sifat dan budaya anda yang kasar dan tidak ada etitud..kami sebagai warga asli pulau Borneo sangat terima jika warga anda datang dengan menjaga budaya kami yang tidak suka dengan kekerasan.
    dan ini sudah terjadi di kalimantan selatan.1 orang suku banjar di keroyok oleh kurang lebih 20 orang suku madura.kasus seperti ini sudah beberapa kali terjadi di Banjarmasin.

    cukup sampit saja yang menjadi saksi bahwa kami penduduk asli kalimatan tidak tinggal diam jika tanah kelahiran kami di injak injak oleh orang orang yang mau menjadikannya sebagai tanah orang pendatang.

    salam

    Yopie

  45. Kala Munyeng on

    BERUNTUNGLAH TUHAN MENCIPTAKAN ORANG MADURA DI INDONESIA,TANPA ORANG MADURA PASTINYA YAHUDI SEMUA.

  46. Asih Pyrwakarta on

    Mengapa warga Madura yang selalu menjadi korban pembantaian?Menurut Jhon max Cristhopolus Peneliti Ras dari Yugoslavia mengatakan dengan simpel saja yaitu Karena Besarnya agama Islam di Asia Tenggara bermula dari Pulau kecil yang Panas Yaitu Madura.Sehingga org2 Yahudi ingin menghabiskan Etnic madura dengan alasan yg sebenarnya tidak masuk akal.Faktanya Hanya di Madura Muslimnya 100% sebelum datangnya warga Kristian ber Urban Kesana.

  47. fitra ramadhani on

    dari penjelasan dan penelitian yang memakan waktu 4 tahun, akhirnya saya menyimpulkan, judul yang anda tulis itu sangat sensitif.

  48. Christian Louboutin Outlet on

    Excellent pieces. Keep posting such kind of information on your
    blog. Im really impressed by it.
    Hey there, You have performed a great job. I’ll definitely digg it and individually recommend to my friends.
    I’m sure they will be benefited from this web site.

  49. generasi bangsa 45 on

    Salam Sejahtera dan salam dami untuk kita semua, Mohon ijin untuk mengutarakan suara hati dari rakyat bawah p.kusni, semua jawaban tersebut bermacam- macam pendapat, akan tetapi pada dasarnya adalah membangun kesatuan dan kerukunan antar suku serta etnis, dengan menghargai 1 sama lainnya.
    saya berasal dari madura asli yang sekarang hijrah di pulau papua pedalaman, saya merasa bangga ketika sampai di tanah papua ketika melihat langsung sodara- sodara kita yg ada di pedalaman, berbagai macam budaya, adat dan ritual khusus yang ada di papua sdh saya saksikan, justru saya merasa terharu melihat sodara kita yg belum tersentuh oleh bantuan pemerintah, mereka yg masih memakai OTEKA yg tidak berpakaian secara lazim, akan tetapi ketika saya pelajari lebih dalam unsur kehidupan tujuannya sama dengan kita semua, meskipun mereka adalah beragama nasrani atau yg lainya. dan memang kebanyakan suku papua hobby minum meskipun tidak semua, tapi semuanya saya akrab dan saling rangkul.
    kesimpulannya adalah : suku papua yg ( mohon maaf ) yang SDMnya dan kehidupan di alam liar aja bisa menghargai tamu ataupin pendatang, saya yakin di pontianak, kalimantan atau sekitarnya masyarakat di sana jauh lebih baik dari kehidupan di papua pedalaman di sini. yg artinya jauh lbh baik secara SDM, Moral, Adat Dll,
    ( tp buakan berrti org suku papua lemah dalm SDMnya )
    banyak dari kalangan mereka yg sukses dan menganyam pendidikan smpai ke luar negri.
    jadi Intinya jika kita saling menghormati, saling menghargai maka terciptalah keharmonisan dan kerukunan.

    Salam Damai dari ” UJUNG BUMI TANAH PERTIWI ”

    Generasi Bangsa 45.

  50. Eko Susilo on

    Wah tanpa sengaja terbaca sedikit, tapi seru dilanjutkan, tulisan yang bagus P. Kusni
    Banyak poin poin bijak kita tangkap hanya saja saya lihat bapak ini terlalu menitik beratkan sesuatu yang saya rasa memandang kurang baik terhadap etnis madura,

    Siapapun etnisnya, jabatan apa yang dia pegang tak perlu bapak ungkit dengan sisi negatifnya atau historis masa lalu etnisnya, karna itu akan menimbulkan preseden buruk bagi pembaca yg mudah terprovokasi
    saya juga tinggal di kalbar pak tidak perlu dibohongi kalo ingin bertanya pada warga trans atau pendatang disini, seperti apa sih tindak tanduk warga lokal contoh yang tega menjual tanah orang lain padahal sesama pribumi pula, tak punya ijasah melamar kerja di tempat kami sedikit memaksa, tak diterima kantor kami dibakar, ini nyata di tempat saya bekerja, sejujur hati aku bisa katakan baru disini kutemui warga dengan keangkuhan kedaerahan sangat tinggi seolah olah tanpa bekerja pun bisa memeras orang lain apa lagi pendatang

  51. Christian Louboutin Shoes on

    Fine way of describing, and nice piece of writing to take facts on the topic of my presentation subject, which i am going to present in academy.

  52. Istanamurah on

    wahh hebat sekali ya jika ada orang dan putra madura yang berhasil menjadi walikota disana.

  53. kol on

    Dgn adanya org madura jd wako justru menanam bibit konflik baru. Karena yang dilupakan adalah realitas geografis kalimantan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: