DAYAK BERMUTU

Jurnal Toddopuli

(Cerita Tentang Katingan Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

I

Ide « Dayak Bermutu » ini pernah saya lontarkan di media massa cetak, tivi dan radio serta pertemuan-pertemuan publik di Kalimantan Tengah (Kalteng) berbarengan dengan pengetengahan motto pemberdayaan dan pembangunan « Membangun Dari Pinggir » bertolak dari sikap « Berdiri Di kampung Halaman Memandang Tanahair Merangkul Bumi » (Lihat : JJ. Kusni, « Negara Etnik. Beberapa Gagasan Pemberdayaan &Pembangunan. Kasus Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah, Fuspad, Yogyakarta, Tahun 2000).

Ide « Dayak Bermutu » sebagai salah satu jalan keluar dari keadaan marginal etnik Dayak, pertama-tama, saya angkat dari kesimpulan Oloh 1) Katingan angkatan-angkatan silam, terutama semasa budaya betang, sebelum masuknya HPH (Hak Pengusahaan Hutan) dan pengelolaan buas atau tak bertanggunggungjawab terhadap sumber daya alam Kalteng.

Kedua, ketika mencoba menelusuri sejarah Dayak dari periode ke periode serta harapan yang dikandunngnya, terutama sejak adanya Pakat Dayak, organisasi komunitas Dayak di kawasan yang dulu disebut Dayak Besar dan sekarang menjelma menjadi Propinsi Kalteng.

Ketiga, ketika membandingkan keterpurukan komunitas Dayak dengan capaian etnik-etnik lain seperti etnik Tionghoa, Bugis, Batak, Minang atau Jawa yang merupakan mayoritas penduduk di tanahair.

Berbicara tentang « mutu » atau « bermutu » tentu saja saya berbicara tentang kualitas manusia dan komunitas sebagai suatu kesatuan atau entitas. Tentang kualitas entitas itu di berbagai bidang, pertama-tama tentang kualitas sumber daya manusianya.

Agaknya, sampai sekarang, kalau kita berbicara tentang « mutu » atau « bermutu », ada yang menafsirkannya sebagai tersedianya jumlah sumber daya manusia yang telah mencecapi pendidikan tinggi, dengan gelar-gelar kesarjanaan ini dan itu. Sampai-sampai orang-orang tak segan membeli rupa-rupa gelar akademi. Sedangkan modernisasi atau kemajuan, diidentikkan dengan penguasaan atas tekhnologi kekinian seperti komputer, dan lain-lain. Saya sendiri, tanpa mengabaikan, apalagi meremehkan arti penting pendidikan tinggi dan penguasaan atas tekhnologi canggih kekinian serta mutakhir, bukanlah penganut pandangan demikian. Tidak memandang bahwa pendidikan tinggi dan penguasaan atas tekhnologi kekinian dan mutakhir sebagai tanda terwujudnya modernisasi serta jaminan pemberdayaan sebagai dasar pembangunan masyarakat.

Keterpurukan masyarakat hadir di hadapan kita sebagai suatu persoalan. Suatu masalah. Persoalan tak obah dengan pertanyaan yang menanti dan mengharapkan jawaban. Perlu diselesaikan. Yang bisa menyelesaikan permasalahan, yang bisa menjasab pertanyaan dengan relatif padan adalah orang-orang hebat dan pintar.Betapa pun panjangnya gelar akademi dan kebangsawanan seseorang, jika tak bisa menyelesaikan masalah, bukanlah orang pintar. Apalagi jika menghasilkan yang sebaliknya, menambah ruwet permasalahan bahkan memerosotkan tingkat perkembangan masyarakat, etnik, daerah atau bangsa. Apakah kurangnya Profesor Doktor dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang mendampingi, menasehati dan menopang Orde Baru Soeharto dahulu? Hasilnya, setelah Soeharto terpaksa turun jabatan, Indonesia berada di ujung tanduk dengan krisis majemuk yang tertinggal, tegak meromok kehidupan bangsa. Kalteng sendiri, terutama yang dari etnik Dayak, dibandingkan dengan jumlah penduduk propinsi, apakah kurang penyandang gelar-gelar akademi berbagai jenjang? Tapi apakah dengan sekian ribu penyandang gelar akademi demikian, masyarakat Kalteng sudah bisa meluputkan diri dari jeratan keterpurukan? Berkembangnya kebun sawit, pengusahaan tambang emas dan eksploatasi hutan yang dilakukan secara tak bertanggungjawab, tidak menyejahterakan mayoritas penduduk, tapi justru sebaliknya. Artinya gelar-gelar akademi bukan petunjuk tersedianya sumber daya manusia yang handal dan pintar, tapi membantu orang menjadi pintar. Mutu gelar akademi tidak berakhir dengan perolehan jenjang akademi tersebut tapi terus diuji kadarnya dalam pengejawantahan. Tidak sedikit akademisi yang berhenti aktivitas keakademiannya begitu mereka usai dengan pendidikan di universitas, tak obah pisang hanya berbuah sekali. Buah sekali itu adalah skripsi yang mereka tulis untuk mendapatkan gelar akademi itu.

Dari contoh-contoh di atas, maka jenjang akademi, bukan jaminan pemberdayaan sebagai dasar pembangunan. Sebaliknya Tjilik Riwut yang dari segi pendidikan formal tak berkesempatan menyelesaikan SMA, berhasil memperlihatkan kebolehan mutunya dengan antara lain turut membidani Propinsi Kalteng, turut serta mengibarkan Merah Putih di Tanah Dayak, memecahkan dengan arif hubungan antar etnik dan merintis pembangunan di Kalteng. Demikian juga halnya dengan Jendral Sudirman yang tak pernah menduduki bangku akademi militer, tapi bisa dengan separo paru-paru tersisa, memimpin perang gerilya melawan Belanda dari atas tandunya. Orang-orang dengan mutu demikian, telah menorehkan jasa tak terlupakan dan kekal untuk bangsa.

Kalau kita mengacu pada pengalaman di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), negeri di mana saya pernah tinggal dan bekerja selama paling tidak tujuh tahun, tingkat seorang insinyur yang baru lalus dari universitas, berada di bawah seorang buruh tua yang disebut Lao Shefu (Pak Guru) yang didewasakan oleh pengalaman baik secara tekhnis maupun dalam mengelola hubungan antar manusia serta masalah-masalah dalam pabrik. Lao Shefu ini kemudian dikirimkan ke universitas untuk memformalkan tingkat mutu pengetahuannya. Antara Lao Shefu dan insinyur muda terdapat kesenjangan besar, baik dalam bidang tekhnis, ketrampilan, pengetahuan, kedewasaan kerja dan mengelola hubungan antar manusia. Insinyur muda yang baru lulus masih dikategorikan sebagai “kader tiga pintu” (pintu keluarga, pintu sekolah dan pintu kantor) yang kurang pengalaman dan pengetahuan, termasuk pengetahuan dan kematangan kemanusiaannya dalam artian mengelola hubungan produksi.

Contoh lain yang masih terkenang adalah pengalaman Mbok Kerti, seorang buruh tani di desa Klaten, pada masa Gerakan Aksi Sepihak. Dalam proses Gerakan, Mbok Kerti tumbuh sebagai seorang pemimpin tegar dan cerdik Gerakan Tani tersebut . Beda dengan sikap seorang guru, yang dikategorikan sebagai cendekiawan desa. Sang guru ini , ketika polisi datang untuk menangkap para aktivis Gerakan, lari pontang-panting menyelamatkan diri dan meninggalkan massanya. Sementara para pimpinan Gerakan yang berasal dari buruh tani atau tani miskin, tegar dan pintar menangani masalah. Tampil paling depan. Barangkali kegoyahan merupakan ciri dari cendekiawan yang belum teruji oleh badai topan perjuangan massa. Keteguhan mereka yang berasal dari buruh tani, tani miskin, tani sedang lapisan bawah, umumnya berangkat dari kenyataan bahwa mereka biasa dengan kehilangan. Jika dalam perjuangan,mereka mendapatkan sesuatu, maka mereka merasakan gerakan membawa hasil, sedangkan jika kalah, mereka juga terbiasa dengan kekalahan. Perjuangan dan kemenangan Gerakan hanya melepaskan mereka dari belenggu pendindasan dan penghisapan. Barangkali pengalaman begini pun dialami oleh CU-CU dan Koperasi Persekutuan Dayak di Kalteng atau di Kalbar yang intinya bahwa “daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh”. Daya tahan, dalam hal ini sama dengan mutu.

Paralel dengan metafora kuda di atas, adalah munculnya “primus interpares”, keteladanan dalam segala bidang, dalam masyarakat sederhana yang barangkali di Katingan masih tersisa pada pemilihan damang, kepala adat. “Primus interpares” adalah sebuah mutu. Jenjang akademi, agaknya bukanlah jaminan mutu untuk menjadi pemimpin dan standar mutu sumber daya manusia yang handal.

II

Apakah standar sumber daya manusia bermutu di mata Oloh Katingan dahulu?

Ketika memperhatikan sastra lisan yang masih hidup di Katingan, juga dalam percakapan dengan penduduk, saya mendapatkan ungkapan yang saya kira mengacu pada standard sumber daya manusia yang diinginkan Oloh Katingan. Ungkapan tersebut adalah “mamut-meteng, pintar-harati, ureh-maméh”.

“Mamut-meteng” berarti gagah-berani di hadapan kesulitan dan cobaan masalah apa pun seperti “kamamut meteng” tokoh legenda Panimba Tasik (Penimba Laut), Panetek Gunung (Pemungkas Gunung) atau dua saudara Tambun-Bungai. Watak mamut-meteng ini juga lebih ditandaskan dengan sebutan diri bahwa manusia Dayak itu adalah “Utus Panarung” (Turunan Pelaga), Dayak Panarung atau kisah-kisah kayau zaman dahoeloe. Tapi kamamut-meteng ini bukanlah kamamut-meteng tanpa orang yang membabi-buta, melainkan kamamut-meteng “rengan tingang, nyanak jata”, konsep hidup dan mati majusia Dayak dahoeloe. Rengan tingang, nyanak jata, tidak lain dari suatu filsaat hidup manusia Dayak guna mewujudkan bumi sebagai tempat hidup manusiawi anak manusia, melawan ketidakadilan dan penindasan. Sejalan dengan wawasan begini maka “raja” dipandang sebagai lambang keburukan, kemalasan dan penghisapan. Ungkapan “kilau raja” (seperti raja) adalah ungkapan mengutuk penindasan, penghisapan dan kemalasan. Sikap “mamut-meteng” pun bisa diketahui dari motto “isen mulang” (tak pulang dari medan laga jika tak menang) yang sekarang dijadikan motto oleh Kota Palangka Raya. Melawan keterpurukan, kiranya adalah suatu medan laga zaman ini. Mamut-meteng adalah suatu sikap, pendirian dan gaya hidup manusia Dayak yang berpangkal pada konsep hidup-mati “rengan tingang nyanak jata” dan memperoleh pengejawantahannya di berbagai bidang. Mamut-meteng juga menuntut ketrampilan, skill know how. Adalah tidak mungkin seorang menjadi panarung yang tangguh jika ia tidak memiliki ketrampilan. Misalnya untuk mangayau (memburu dan memotong kepala), untuk berperang, yang bersangkutan perlu keterampilan berperang dan mangayau jika ia ingin pulang sebagai pemenang. Dari praktek mangayau, nampak bahwa para pangayau dalam menguasai ketrampilan, mereka berusahan semaksimal mungkin untuk menguasai ketrampilan mangayau, misalnya memiliki dan menguasai beragai “ilmu”. Yang disebut “mandau terbang” yang dikenal dan ditakuti pada masa Tragedi Sampit 2000, kemampuan membaui sesuatu dari jarak satukilometer dan membedakan jenis-jenis barang yang dibaui dari jarak demikian, termasuk ketrampilan dan dikejar maksimal penguasaannya. Ketrampilan akan menambah keyakinan diri dan menambah kamamut-meteng-nya. Kamamut-meteng bisa disebut sebagai tekad bulat saat melakukan sesuatu. “Ilah ala-alang”, jangan tanggung-tanggung jika melakukan sesuatu merupakan ucapan umum di kalangan manusia Dayak dahoeloe. “Ilah ala-alang” identik dengan “isen mulang”, atau “iya mulik bengkang turan” (pantang menyerah sebelum berhasil), ujar orang Barito Utara atau “Tira Tangka Balang” (Bekerja Sampai Tuntas), jika menggunakan istilah orang Puruk Cahu.

“Pitar-harati” , berarti pintar, bisa menyelesaikan soal, mengatasi permasalahan. Untuk bisa pitar, dituntut mengenal kenyataan dan permasalahan secara rinci, bukan hanya garis besar. Harati, berarti berbudi, tahu adat. Dalam istilah sekarang, barangkali bermoral. Mempunyai integritas. Tahu arti kredibilitas. Pitar dan harati digandengkan karena manusia Dayak memandang tanpa harati, tanpa menghormati adat (dia bahadat), manusia demikian dipandang berbahaya dan tidak bermutu. Berbohong (panganjuh, pananjaru) adalah suatu tindak sangat tidak terhormat. Mutu seorang manusia dalam masyarakat Dayak antara lain ditakar dengan satunya kata dan perbuatan seseorang. Panganjuh, pananjaru, bertentangan dengan wacana rengan tingang nyanak jata dan tabiat Utus Panarung, dianggap sebagai perbuatan paling hina (Lihat: Tjilik Riwut dalam karyanya: “Kalimantan Membangun”, 1979) sama hinanya dengan manakau (mencuri), korupsi, menyalahgunakan kekuasaan.

Ureh, berarti rajin, tekun, kualitas, yang sejajar dengan “ilah ala-alang” (jangan kepalang tanggung). Ilah ala-alang” atau ”tira tangka balang”, saya pahami sebagai pandangan dan sikap yang bertentangan dengan pola pikir dan mentalitas « mie instan », « jalan pintas », yang sekarang umum menjangkiti masyarakat kita, termasuk masyarakat Dayak kekinian.

Sedangkan maméh atau ngamias, urakan, ugal-ugalan, suatu kualitas di kalangan Oloh Katingan yang sering dalam kehidupan sehari-hari hingga sekarang. Maméh atau ngamias, sejenis tindakan atau pikiran yang menentang arus, di luar kebiasaan, menyimpang dari adat dalam usaha melawan sesuatu yang dianggapnya bertentangan dengan rasa keadilan dan adat. Pelanggaran adat dilawannya dengan melanggar adat. Misalnya kejadian berikut:

Pada suatu siang, seorang perempuan, keluar menggalah buah mangga di kebun belakang rumahnya. Perempuan muda ini keluar mengenakan lingerie menerawang sehingga garis-garis tubuh, bentuk payudara dan vaginanya jelas nampak. Pada saat yang sama, saudara sepupunya yang sedang makan, turun ke kebun belakang rumah juga untuk mencari lombok sebagai perangsang selera makannya. Melihat keadaan sepupu perempuan itu, sang pemuda bangkit birahi, dan tanpa ayal ia memegang vagina perempuan sepupunya. Sepupu perempuannya menjerit minta tolong. Tindakan maméh atau ngamias pemuda ini diajukan ke Pengadilan Adat di Kasongan. Pemuda maméh atau ngamias itu dijatuhi hukuman singer tanpa protes apa pun. Tapi jika direnungkan maka tindakan si pemuda sebenarnya suatu ulah melawan adat yang dilakukan terhadap pelanggaran kebiasaan dan adat.

Dari beberapa peristiwa yang ditangani oleh Pengadilan Adat, saya berkesan bahwa maméh atau ngamias masih merupakan tindakan melawan arus yang ditoleransi oleh Masyarakat Adat sebagai bentuk kritik serta melakukan terobosan. Sedangkan buréh, adalah tindakan sadar berlagak bodoh untuk mencapai tujuan serta menerobos kemandegan. Sikap maméh juga sering digunakan untuk mempermain-mainkan pihak yang tidak disukai. Hal ini sering dilakukan terhadap “tuan kontrolir” Belanda yang di Tanah Dayak disebut bakara (kera 2) merah berhidung mancung) semasa penjajahan.

III

Pandangan Oloh Katingan di atas memperlihatkan bahwa yang mereka pandang sebagai sumber daya manusia yang bermutu adalah mereka yang berwawasan rengan tingang nyanak jata, mempunyai ketrampilan (skill know how) tinggi, pintar dan berbudi/beradat bermoral, gagah-berani, punya komitmen manusiawi dan sanggup melakukan terobosan-terobosan terhadap kemandegan. Yang ditempatkan pada kedudukan teratas adalah wawasan seperti yang dijabarkan dalam rumusan “rengan tingang nyanak jata” atau “habangkalan penyang karuhei tatau” (Cita-cita Untuk Membangun Bersama Dilandasi Iman Yang Tinggi), jika menggunakan kata-kata orang Dayak dari Kabupaten Gunung Mas.

Ketrampilan tekhnis tanpa dibimbing oleh wawasan, budi/beradat, tekad dan gagah-berani , keberpihakan manusiawi dan kesanggupan melakukan terobosan melawan arus, akan menjadi ketrampilan seorang tukang belaka.

Barangkali standar sumber daya manusia Oloh Katingan di atas masih relevan, masih kontekstual untuk membangun Katingan, Kalteng dan Indonesia hari ini dan esok. Standar suèmber daya manusia Oloh Katingan di atas barangkali merupakan jalaran mencapai Dayak yang bermutu. Barangkali pula masalah ada tidaknya Dayak bermutu merupakan soal kunci bagi pemberdayaan dan pembangunan Kalteng, Kalimantan yang jika diluaskan lagi soal kunci bagi Indonesia. Konsep manusia, sumber daya manusia bermutu Oloh Katingan menitikberatkan usaha pada pembangunan manusia, pandangan hidup manusia. Filosofi sebagai dasar. Walau pun pada kenyataan sekarang, masalah mendasar ini oleh Katingan sendiri sekarang seperti diabaikan sehingga Oloh Katingan tak obah orang karam di tengah badai segala persoalan masyarakat tanpa pelampung. Oloh Katingan seperti orang yang tak mengenal sejarah, budaya dan dirinya sendiri lagi sekali pun hidup di Katingan yang penaka sapi perahan banyak tangan. Katingan hanyalah salah satu contoh bagi keadaan di negeri ini. Mawas diri, barangkali, langkah penting mendesak bagi Oloh Katingan, selagi waktu belum jauh berjalan membiarkan Oloh Katingan tenganga bingung akan keadaan diri yang papa di kampong kelahiran sendiri.

Apakah sumber daya manusia kita di Kalteng khususnya dan Kalimantan_sekarang memenuhi standar di atas? Sudahkah kita menjadi Dayak Bermutu? Jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan ini, boleh jadi membantu kita membaca peta keadaan kita lebih jauh.

IV.

Saat membicarakan soal Dayak Bermutu ini, saya ingin mengambil bandingan dari capaian-capaian etnik-etnik lain. Ambil sebagai bandingan pertama , capaian yang diperoleh oleh etnik Tionghoa. Dari segi demografi, dari 220 juta penduduk seluruh negeri, etnik Tionghoa bukanlah jumlah yang dominan. Tapi kiranya diakui bahwa di berbagai bidang, peran mereka sangat berarti untuk bangsa dan Negara kita. Bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang politik, kebudayaan , pendidikan, kesehatan,ilmu pengetahuan dan sosial. Di bidang ekonomi, jika tanpa modal dari etnik Tionghoa, sulit dibayangkan keadaan ekonomi negeri kita. Posisi dari etnik minoritas Tionghoa bagi kehidupan berbangsa, bernegeri dan bernegara samasekali tak terabaikan jika tidak mau menyebutnya sangat signifikan (berarti). Kedudukan begini, tentunya bukanlah posisi yang jatuh dari langit, tapi hasil kerja ulet tak kenal jerih payah bersimbah darah dan airmata. Apalagi jika kita melihat sejarah datangnya etnik Tionghoa ke Indonesia. Mereka datang ke Indonesia ada yang diculik oleh kolonialis Belanda sebagai tenaga kerja, ada yang mengungsi karena bencana alam, karena perang, terhalau karena kalah memberontak, ada yang murni mengadu nasib dan mengembara ada pula tinggalan Gengis Khan dalam perjalanan menghukum kerajaan Jawa. (Rinciannya, lihat antara lain: karya-karya DR. Claudine Salmon & Prof. DR. Denys Lombard alm). Keuletan, kerja keras dan solidaritas mereka selain karena hidup di negeri orang, juga ada faktor filosofi Confusionisme. Mereka juga menyadari arti pendidikan dalam usaha meningkatkan kadar diri mereka sebagai manusia. Melalui penguatan diri di bidang ekonomi, serta peningkatan mutu diri sebagai sumber daya manusia melalui pendidikan, mereka akhirnya meluaskan pengaruh di bidang politik. Kegiatan mereka di bidang ekonomi barangkali ada peran Hindia Belanda yang memilah warga Hindia Belanda ke dalam warga berkulit putih, warga Timur Asing dan Bumiputera. Warga Timur Asing merupakan penyekat antara Bumiputera dan warga Hindia Belanda berkulit putih. Sebagai penyekat mereka menghidupkan diri dari bidang perdagangan.

Etnik Minang yang terkenal dengan budaya rantau seperti halnya dengan etnik Tionghoa, di rantau dipaksa keadaan untuk menghidupkan diri dengan etos kerja yang ulet di bidang perdagangan. Dengan basis dagang ini mereka memperkokoh posisi mereka di bidang ekonomi, lalu dari bidang ekonomi mereka mempunyai syarat meningkatkan sumber daya manusia mereka untuk kemudian memasuki bidang-bidang lain seperti politik, pendidikan dan lain-lain… Faktor solidaritas di antara komunitas Minang di rantau, turut memudahkan usaha pengangkatan mutu mereka sebagai suatu komunitas. Solidaritas etnik yang kuat begini pun terdapat di kalangan etnis Batak yang banyak masuk ke dunia militer dan kemudian hukum serta juga ekonomi. Tanah Batak bukanlah alam yang memanjakan anak-anaknya seperti halnya dengan Kalimantan sehingga melahirkan suatu etos kerja yang pantang menyerah. Dengan segala variannya, hal demikian pun terdapat pada etnik pedagang Banjar dan Bugis.

Faktor-faktor di atas nampaknya kurang menonjol pada etnik Dayak yang dimanjakan oleh alam. Solidaritas antar mereka pun tidak sekuat yang terdapat pada etnik Batak, Minang dan Tionghoa, kecuali pada masa kritis seperti perang. Masing-masing merasa diri sebagai tamanggung dan pangkalima yang sama tamam (hebat) dan tak ada keseganan saling “hakayau kulae” (saling memotong kepala,orang sesaudara). Sebagai anak alam, ibu pengasih yang memanjakan mereka, mereka mempunyai etos kerja yang berbeda dari etnik-etnik tersebut di atas, lebih-lebih setelah HPH dan pemburuan emas Kalimantan berlangsung besar-besaran. Etos kerja ”ureh” tinggal menjadi etos kerja generasi zaman betang. Lepas dari bagaimana sejarahnya menjadi kaya raya, apa yang diperlihatkan oleh keluarga Narang sekarang yang melakukan pembangunan basis ekonomi dan menguasai bidang politik daerah, serta menyadari arti penting pendidikan, menarik perhatian saya sebagai suatu gejala baru di kalangan orang Dayak. Akan makin menarik jika gejala begini dibimbing oleh suatu wacana seperti yang saya katakan di atas dan ditularkan ke masyarakat Dayak, sehingga dengan demikian, ia mungkin berdampak lebih luas dari sebatas lingkup keluarga. Revitalisasi budaya Dayak agaknya menjadi tuntutan mendesak. Melalu pemilu bulan April dan pilkada yang yang lalu, samar-samar saya sedang melihat adanya perobahan dalam masyarakat Dayak, melihat bahwa peran pemegang kekuasaan politik dan ekonomi makin makin berpengaruh diberbagai lapisan masyarakat, sementara peran Masyarakat Adat makin mengendor seiring dengan melemahnya pemahaman atas budaya Dayak oleh orang Dayak sendiri. Saya mengkhawatirkan bahwa jika keadaan begini berlanjut, bukan tidak mungkin masyarakat Dayak menjadi masyarakat yang tanpa identitas. Dangdut jauh lebih populer daripada sansana kayau dan manasai, bahasa Banjar jauh lebih dipakai daripada bahasa Dayak sendiri, sampai ke tengah-tengah keluarga sebagai entitas terkecil dalam masyarakat. Dayak Bermutu yang bagaimanakah jika Dayak di Tanah Dayak menjadi Dayak tanpa identitas atau jati diri dengan sumber daya manusia hampa filosofi? Dayak pun jika demikian, tinggal sebuah kata hampa arti.***

Palangka Raya, April 2009

———————————-

JJ.Kusni

Catatan :

1). Oloh, bahasa Dayak Katingan, berarti orang. Oloh Katingan berarti, Orang Katingan atau Dayak Katingan.

2). Kera adalah umpatan terkeras di masyarakat Dayak karena sikap hewan ini dipandang kurang ajar atau tak beradat terhadap sesamanya.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: