Wawancara Prof. DR.Salim Said : Perkenalkan Indonesia Lewat Diplomasi Budaya

Wawancara Prof. DR.Salim Said dan JJ.Kusni[Harian Fajar, Makassar, 21 November 2208] Di Praha, Salim Said*

Perkenalkan Indonesia Lewat Diplomasi Budaya

Memperkenalkan Indonesia di Cekoslewakia memang butuh tangan-tangan dingin. Persoalannya, pasca perubahan politik dan pergantian elit setelah rezim komunis disingkirkan, nama Indonesia semakin kurang dikenal di negeri itu. Sebagai Duta Besar untuk Republik Ceko, Prof Dr Salim Said harus melakukan langkah-langkah konkret dengan menekankan diplomasi budaya melalui sejumlah kegiatan kesenian.

Sebutlah, berbagai rombongan kesenian (tradisional maupun modern) didatangkan datangkan dari Tanah Air untuk mengadakan pertunjukan di berbagai kota di Praha. Seperti apa bentuk sosialisasi itu agar masyarakat Ceko bisa perlahan-lahan tahu bahwa Indonesia adalah bangsa pluralistic? Apakah juga dengan menggunakan pakaian-pakaian daerah pada berbagai event ang diadakan KBRI sebagai alternatif lain?

Berikut petikan wawancara kontributor Fajar di Prancis JJ Kusni dengan Salim Said di Praha, pekan lalu.

Anda lebih dikenal sebagai seorang ilmuwan politik dan budayawan, ketua Dewan Kesenian, penulis kritik film dan sastra, bagaimana menyikapi posisi Anda sebagai seorang duta besar?

Duta Besar adalah wakil kepala negara untuk negara tempat dia diakreditasikan. Untuk tugas itu saya hanya menjalankan kebijakan presiden, dan bukan membuat kebijakan sendiri. Dalam menjalankan kebijakan presiden tersebut, saya tentu saja mempunyai kelonggaran menafsirkan kebijakan tersebut sesuai kondisi di lapangan. Salah satu tugas saya di Ceko adalah meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara. Hambatan terpenting pelaksanaan tugas itu adalah kurangnya Indonesia dikenal di Ceko selepas negeri tersebut mengalami perubahan politik dan pergantian elit setelah rezim komunis disingkirkan. Nah, bagaimana Anda mengharapkan orang membeli barang kita kalau orang tersebut tidak mengenal kita. Untuk mengatasi hambatan ini saya menekankan diplomasi budaya dengan sejumlah kegiatan kesenian dengan tujuan agar nama Indonesia makinbanyak terdengar di negeri tempat saya bertugas ini. Berbagai rombongan kesenian (tradisional maupun moderen) kami datangkan dari Tanah Air untukmengadakan pertunjukan di berbagai kota di sini. Dengan berbagai corak kesenian tersebut, saya juga berharap masyarakat Ceko akan perlahan-lahan tahu bahwa Indonesia adalah bangsa pluralistik. Saya pribadi ikut mendemonstrasikan pluralisme Indonesiadengan menggunakan pakaian-pakaian daerah pada berbagai kesempatan perayaan yang diadakan oleh KBRI. Saya, misalnya, pernah memakai pakaian Bugis, dan pada kesempatan lainnya memakai pakaian Aceh. Sementara pada musim panas saya selalu menggunakan berbagai corak batik Indonesia pada acara-acara resmi yang sayahadiri.

Sebagai seorang yang tidak punya latar belakang dan pengalaman kerja di birokrasi pemerintahan, apakah Anda tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas?

Tantangan selalu ada, tentu saja. Tapi ternyata saya adalah orang yang cepatmenyesuaikan diri tanpa kehilangan kepribadian. Ini karena dalam menjalankan birokrasi kantor, saya tidak jemu-jemunya bertanya kepada staf KBRI yang memang dilatih sebagai birokrat. Di sana–sini saya melakukan perubahan dengan cara yang tidak mengejutkan. Saya misalnya berhasil meyakinkan staf KBRI untuk meninggalkan protokol berbau militer yang selama ini menjadi tata upacara di semua KBRI. “Zaman sudah berubah,” kata saya menjelaskan. Setelah setahun perubahan, para staf ternyata sudah terbiasa dengan protokol non militer tersebut.

Bagaimana hubungan Anda dengan diplomat lainnya?

Dengan para diplomat, pergaulan saya baik-baik saja, terutama karena pengalaman saya di Jakarta sebagai wartawan yang banyak berhubungan dengan diplomat asing.MemangPraha bagi para diplomat tidaklah semenggairahkan seperti di Jakarta . Kenapa? Karena negeri ini tenang-tenang saja, tidak ada pergolakan seperti di Jakarta di masa Orde Baru atau sekarang pada saat mendekati pemilu. Bagi mantan wartawan seperti saya, di Praha ini tantangan sangat minim. Mungkin kalau saya ditempatkan diAsia Tenggara , Amerika Serikat, China atau Australia , tantangannya lebih besarkarena dinamikanya tinggi. Di Praha, semua adem-adem saja. Jadi saya punya waktu untuk membaca, selain menghadiri banyak pesta diplomatik. Yang terakhir ini, pesta-pesta, adalah tugas yang sebenarnya kurang saya minati.

Para ilmuwan dan pengamat politik dan kemasyarakatan pada umumnya sepakat untuk melihat Indonesia sebagai sebuah bangsa yang lahir dari gagasan atau ide-ide. Apa pendapat Anda?

Kegiatan budaya adalah kegiatan kreatifitas, penciptaan. Cipta seni maupun gagasan. Dalam kegiatan kreatifitas itulah kita membangun dan menciptakan realisasi dari konsep pluralisme tersebut. Nah, dalam proses penciptaan itu –karya seni maupungagasan-gagasan— tak terhindarkan intrepretasi para pencipta dan pemikir terhadap apa yang mereka persepsikan sebagai konsep atau karya yang cocok bagi konsep Indonesia . Bahwa interpretasi itu menimbulkan perdebatan dari warga bangsa lainnya, itu wajar-wajar saja dalam demokrasi. Sepanjang perdebatan itu berlangsung dalambatas-batas yang wajar dan menghormati keberadaban, biarkan saja berlangsung. Debat pro kontra UU Anti porno yang sekarang lagi seru, misalnya. Saya kira itu wajar-wajar saja. Tapi kalau ada yang sudah menggunakan ancaman, nah, itu yang aneh. Kalau kita mau berdemokrasi, maka kita harus siap mendengar pendapat berbeda-beda yang selanjutnya diikuti dengan debat panjang. Memang kadang terasa membosankan bahkan melelahkan, terutama bagi bangsa yang lama ditekuk oleh pemerintahan otoriter, seperti kita. Tapi itulah konsekuensi demokrasi.

Indonesia adalah bangsa majemuk dalam hampir semua hal. Itu semua kita sepakati, sebab itu memang kenyataan tak terbantahkan. Lalu apa perekat bangsa plural yang satu ini?

Soal ini sudah banyak dijelaskan Bung Karno di masa lalu. Secara singkat bisadikatakan bahwa wilayah Republik Indonesia sekarang adalah kelanjutan dari Hindia Belanda, sebuah wilayah koloni ciptaan dan jajahan Belanda yang mereka capai pada awal abad ke 20. Konsep Indonesia sebagai sebuah bangsa adalah konsep politik yang diterima bersama para tokoh pergerakan pada dekade ketiga abad ke-20. Jadi konsep Indonesia sebagai kosa kata politik itu usianya sebenarnya masih muda. Kendati demikian konsep itu dengan mudah melembaga dalam hati bangsa yangterdiri dari berbagai suku dan penduduk kepulauan yang kini dikenal sebagaiIndonesia itu. Apa penjelasannya? Perasaan senasib dijajah dan dihinakan oleh kolonialis Belanda.Ikatan budaya (bahasa Melayu dengan mudah diterima sebagai bahasa Indonesia , salah satu contohnya), peranan Islam yang dianut oleh kebanyakan penduduk. Dan yang tidak kurang penting adalah cita-cita bersama yang terdiri atasdua tujuan: Merdeka dari penjajah untuk kemudian membangun sebuah negara yang didasarkan padakedaulatan rakyat. Merdeka dari penjajah asing, kita sudah. Tapi kalau negara dikuasi oleh pemerintahan otoriter,
maka itu berarti kita belum merdeka dari penjajahan bangsa sendiri.Yang terakhir ini kita alami pada masa Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru. Secara singkat bisa dikatakan bahwa perekat Indonesia yang pluralistik itu adalah pengalaman dan penderitaan bersama di bawah kolonialisme, persamaan-persamaan budaya, peranan Islam dan persamaan cita-cita untuk merdeka dan berkedaulatan rakyat. Bagi saya yang paling penting adalah dua yang terakhir itu.

Sejak reformasi pasca jatuhnya Orde Baru, di sana–sini muncul kecemasan terhadap kemungkinan desintegrasi dan separatisme. Bagaimana pandangan Anda?

Menurut saya, citra diri (self perception) sebagai bangsa Indonesia itu amat kuattertanam dalam sanubari warga bangsa ini. Tapi itu jangan kita take for granted.Kalau kita, misalnya, gagal dengan demokratisasi, lalu muncul pemerintahan otoriter, maka yang akan terjadi adalah ada sebagian kecil bangsa kita yang akan berkuasa dan menindas sebagian besar yang lainnya. Jika itu terjadi, maka distintegrasi dan separatisme kemungkinan besar sulit dicegah. Oleh sebab itu sebaiknya disadari bahwademokratisasi yang sedang kita lalui dan lakoni sekarang ini taruhannya amat besar: hari depan eksistensi Republik dan bangsa Indonesia. Karena itu kita tidak punya pilihan lain kecuali satu, harus berhasil.

(sil) Dubes RI untuk Republik Ceko

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: