MONTMARTRE DAN RUMAHKU

parisdilihatdarisacrecoeur1

Montmartre disebut juga sebagai kampung seniman — karena di sinilah banyak tinggal para seniman dari berbagai negeri. Galeri lukis terdapat di berbagai jalan yang terletak di sebuah bukit. Bukit Montmartre — tempat tertinggi di Paris Utara. Jalan-jalan pun banyak menggunakan nama-nama para pelukis atau penyair dari berbagai negeri. Nama-nama para seniman pun terpahat di di tembok-tembok rumah di mana mereka pernah berdiam. Sedangkan rumah yang dirancang oleh para arsitek seperti Carbousier, misalnya, boleh dihuni tapi dengan ketentuan tidak boleh melakukan perobahan sedikit pun, termasuk warna catnya. Rumah-rumah sejenis ini dipandang oleh pemerintah sebagai warisaan budaya Perancis. Larangan perobahan ini dikenakan juga pada bangku-bangku dan jenis lampu taman yang dibangun pada masa walikota George Eugène Haussman [1809-1891] –salah seorang walikota yang berjasa membangun dan menata Paris secara artistik.

Dali yang pernah hidup di Montmartre, dilanggengkan melalui sebuah museum di mana karya-karya pelukis Spanyol ini tersimpan dan dipamerkan. Sejarah Montmartre bisa disimak melalui Museum Montmartre yang seperti halnya dengan Museum Salvador Dali, terletak di puncak bukit di sekitar Jalan Pulbot — lambang dari anak-anak Paris. Tak jauh dari kedua museum ini terdapat Place du Tertre, sebuah lapangan kurang lebih 800 meter persegi di mana para pelukis menawarkan kebolehan mereka kepada para wisatawan yang berkunjung dan ingin mendapatkan kenang-kenangan dari Montmartre — satu-satunya kampung seniman yang tersisa sampai hari ini. Sebelumnya terdapat tiga pusat seniman yang membentuk aliran masing-masing, yaitu Montparnasse, Quartier Lain [di mana eksistensialisme dilahirkan di abawah kepulan asap rokok para seniman dan pemikir di café-café kartir cendekiawan Paris]. Quartier Latin dan Montparnasse dalam perjalanan waktu sudah tiada. Sekarang yang tersisa hanyalah kampung seniman Montmartre, sebuah kampung yang teletak di Paris XIII [Paris terbagi dalam 20 wilayah yang disebut arrondisement. Masing-masing wilayah diurus oleh seorang walikota dibawah Kotapraja Paris] .

Dari ketinggian Montmartre, kita bisa melihat seluruh kota yang terhampar di lembah Seine dengan segala kisah dan sejarahnya. Sebagian diingat, sebagian tidak, termasuk tidak sedikit orang yang melupakan riwayat berdirinya katedral berkubah putih: Sacre Coeur, yang berdiri megah di puncak Montmartre.

Commune de Paris [Komune Paris] adalah sebuah pemerintah yang berdiri melalui pemberontak rakyat Paris yang tak puas atas sikap kapitulasi pemerintah Thiers terhadap agresi asing dan yang mengepung Paris pada waktu itu. Guna menentang kapitalisasi pemerintah maka pada 1789, rakyat melancarkan pemberontakan bersenjata dan mendirikan pemerintah revolusioner . Pemerintah resmi lari ke Versailles. Karl Marx yang waktu itu berada di Paris, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemberontakan dan meramalkan bahwa pemberontakan ini akan berakhir dengan kegagalan. Tapi Marx tidak berdaya mencegahnya. Setelah gagal maka Marx menyimpulkan yang disebutnya sebagai “pemberontakan pertama proletariat” ini dalam salah satu karyanya. Sejak larinya pemerintah Thiers ke Versailles, maka Versailles, dalam kamus politik Perancis sinonim dari “golongan kanan”.

Komune Paris berakhir pada tahun 1795, setelah benteng terkuatnya, yaitu Bukit Montmartre berhasil direbut oleh pemerintah Thiers dengan bantuan sekelompok pengkhianat. Pasukan Komunard didesak hingga lalu dimasakre di Tembok Fedéré [LaMur de Fedéré]. Pemimpin-pemimpinnya selain dimasakare , yang tertangkap dibuang hingga ke Kaledonia Baru. Tapi memang dasar seorang pemberontak, Louis Michel — salah seorang pemimpin kaum Komunard — ketika berada di Kaledonia Baru, masih saja memimpin pemberontakan melawan Paris. Keadaan yang mengingiatkan aku akan pemimpin-pemimpin Bugis yang dibuang keSrilangka tapi terus memimpin perlawanan terhadap kolonialisme Belanda sehingga akhirnya dibuang ke Afrika Selatan. Turunan mereka sampai sekarang masih terdapat di negeri Mandela itu.

Untuk meminta maaf kepada Tuhan atas pertumpahan darah melalui pemberontakan Komune Paris ini, maka didirikanlah Gereja Putih di puncak Montmartre yang dinamai Hati Suci [Sacré Coeur]. La Mur de Fedéré dan masalah Komune Paris, baru diindahkan kembali pada Mei 1981, ketika François Mitterrand dari Partai Sosialis Perancis terpilih dengan kemenangan mutlak pada Mei 1981.

Agar rakyat Perancis tidak lupa akan sejarah, maka pemerintah kiri Perancis, sejak Mitterrand menjadi presiden, membuat prasasti-prasasti di mana tertera sejarah singkat jalan, kartir dan sekitarnya. Sehingga kemudian ada ungkapan di Perancis bahwa “kaum kanan merusak bangsa, kaum kiri menatanya ulang”. Sampai sekarang di hampir semua jalan atau kartir serta bangunan-bangunan bersejarah yang terawat baik, bisa didapatkan prasasti-prasasti demikian. Di tembok-tembok gedung dan kota di mana para partisan anti Hitler gugur, dari bangsa mana pun, dicantumkan plakat yang menunjukkkan : “Di sini telah gugur [disebutkan nama-nama mereka] dalam perlawanan terhadap Nazi untuk kepentingan bangsa Perancis”. Saban hari pembebasan dari pendudukan Nazi, di tembok-tembok itu digantungkan karangan bunga penghormatan dan terimakasih. Sikap yang mengingatkan aku akan kata-kata Soekarno bahwa “hanya bangsa besar yang bisa menghargai para pahlawannya”. Aku tidak melihat di sini bahwa “pahlawan dibunuh dua kali” , jika menggunakan istilah alm. Indonesianis dan sejarawan Perancis, Dr. Jacques Leckerc.

Dengan latarbelakang ini maka partai neo-nazi Front Nasional tidak pernah populer lama dan sekarang melemah sendiri, tanpa larangan. Ia melemah karena idenya tidak tanggap zaman dan ditolak oleh rakyat Perancis. Pengalaman pendudukan Jerman Hitler membuat rakyat negeri ini sangat tidak menyukai nazi-isme. Ada memang usul agar Front Nasional dibubarkan, tapi usul ini tidak bergaung sama sekali, malah ditentang dengan alasan anti demokrasi, tidak percaya diri, dan sebagai cara melawan kezaliman yang tidak kena serta membatasi hak orang lain mengungkapkan diri — salah satu inti dari Revolusi Perancis 1789 yang meruntuhkan Penjara Bastille, 14 Juli 1789. Berdasarkan keadaan sekarang, maka santer di Perancis dikatakan bahwa “Bastille masih harus direbut kembali”, metafora yang aku anggap sangat lentur. “Berwayuh arti”, jika menggunakan istilah alm. Prof. Djojodigoeno dari Universitas Gadjah Mada. Adakah sesuatu yang perlu kita rebut kembali di negeri kita sesuai rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan?

Adanya Museum Dali di Montmartre, pencantuman nama-nama Van Gogh, Klee, Getrurde Stein, Thomas Paine, Samuel Becket, dan lain-lain seniman atau asing, bukan Peranis, di tembok-tembok gedung dan kota, bagiku hanya memperlihatkan kemampuan Perancis menghargai jasa orang yang berjasa membela dan mengangkatnya, kebesaran hati Peranicis, khususnya Paris dan Montmartre untuk berikap terbuka, mencampakkan di bawah sepatu sikap ektarianisme yang cupet. Yang hanya melihat sesuatu sejauh ujung jari. Kerteburkaan begini disenandungkan oleh penyair Paul Valery dalam kata-kata “Dari Paris kita melaut” yang dalam hati ingin kuberikan varian: “Dari Indonesia kita menggalaksi” sebagaimana mimpi para pahlawan pendahulu kita . Pahlawan adalah manusia galaksi bukan katak di bawah tempurung dan narsistik.

Ada dua kabaret utama di Montmartre utama yaitu Moulin rogue dan Michaux. Keduannya mempunyai keunikan. Pada zaman Perancis diduduki Jerman, Moulin Rouge merupakan tempat bertarungnya mata-mata dan segala kejadian dilanggengkan oleh seniman seperti Toulouse Lautrec dalam karya-karya lukisnya. Sedangkan Kabaret Michaux lebih menunjukkan usaha kreatif wartawan dan seniman yang pemimpi. Kejelian mencipta dan berusaha dengan nol modal. Kedua kabaret ini terletak di daerah yang dulu dikenal sebagai daerah “lampu merah” — daerah yang melahirkan serangkaian karya seni disebut ” serie noir” [serie hitam], karya-karya yang menyentuh sekalipun penuh kekerasan tapi manusiawi, mengingatkan aku akan karya-karya Yusuf Soib, penulis dari Medan yang kuikuti tekun semasa SMP di Sampit.

Oleh adanya daerah “lampu merah”, dan keindahan serta tempat berwisata maka Montmartre oleh sementara penulis asing dan Perancis disebut sebagai daerah “pleasure and crime” [tempat bersenang-senang dan kejahataan]. Di kaki bukit berlangsung berbagai kejahatan, sedangkan di atasnya merupakan tempat bersenang-senang para wisatawan. Di antara keduanya terdapat tenang yaitu Abbesses di mana aku tinggal selama berthun-tahun tanpa pernah berpindah.

Sementara, adanya tokobuku-tokobuku, gedung teater serta gedung bioskop yang bertaburan di Montmartre di antara taburan restoran dari berbagai negeri, memperlihatkan usaha pencarian alternatif yang tak kunjung henti di kalangan para seniman. Kegiatan-kegiatan alternatif ini jika di dunia perfileman disebut “geriliya filem”.

Montmartre sebagai kampung seniman adalah kawasan atau kartir pertunjukan terbuka segala musim. Jalan-jalan, taman-taman, halaman katedral dan semua ruang kosong dijadikan sebagai tempat pertunjukan sastra-seni. Demikian juga café-café sehingga muncul yang disebut café thêatre bahkan café philosophie [warung filsafat] yang dijadikan sebagai salah satu subyek bahasan para peneliti.

Hal lain yang juga sangat menarik bagiku di kampung ini bahwa hubungan antar penduduk sangat akrab. Selama bermukim di sini, aku akrab dengan penjual roti, para pedagang, tukang cukur, penjual keju, dan lain-lain… sementara tradisi yang di kartir lain diabaikan , seperti musim memetik aanggur, di Montmartre masih terpilahara. Montmartre adalah benar sebuah kampung di Paris yang mungkin dibayangkan gemerlap kemilau dari luar.

Bagiku Montmartre selain tempatku membangun tenda kembara, ia juga sebuah buku sejarah, sebuah kelas belajar. Anak dan istriku menyukainya. Matahari Indonesia saja yang menyerukan mereka kembali ke khatulistiwa. Sedangkan aku yang jenuh dengan meniti busur bumi, memang merasakan Indonesia adalah rumahku sesungguhnya.

Memandang daun-daun diakhir musim gugur di bawah sepatuku, aku menyebut namamu: Indonesia, aku mendengar tagihan ibu almarhum, panggilan keluargaku yang mengharapkan pulang segera. “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari hujan emas di negeri orang”, ujar tetua. “Hujan batu” menguji kadar dan setia diri. Siapa kita sesungguhnya? Apalagi Indonesia adalah sebuah cita-cita. Cita-cita yang bagiku adalah serupa nafas.***

Perjalanan Kembali, Akhir Musim Gugur 2008
—————————————————————-
JJ. Kusni

Keterangan:

Foto terlampir, Paris dilihat dari Montmartre [Dok: JJ. Kusni]

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: